Memuat...

Jumat, 21 November 2014

,

Mahram


Pertanyaan Dari:
Mirman Lasyahouza Dafinsyu, syahboy93@gmail.com,
SMA Muhammadiyah Bangkinang
(disidangkan pada hari Jum’at, 9 Jumadilakhir 1432 H / 13 Mei 2011 M)


 Pertanyaan:

Assalamu ‘alaikum w.w.
Pak saya seorang pelajar berumur 17 tahun, yang ingin saya tanyakan adalah selain keluarga saya, siapa saja yang termasuk muhrim saya?
Terima kasih atas penjelasannya.
Wassalamu ‘alaikum w.w.

Jawaban:

Sebelumnya kami lebih dulu mengingatkan bahwa kata “muhrim” dalam bahasa Arab berarti “orang yang sedang berihram”, sedangkan yang dimaksud oleh penanya dalam bahasa Arab disebut “mahram”. Mahram adalah orang perempuan atau laki-laki yang masih termasuk sanak saudara dekat karena keturunan, sesusuan, atau hubungan perkawinan sehingga tidak boleh menikah di antara keduanya.
Dari definisi di atas, dapat diketahui bahwa hubungan mahram dapat terjadi karena tiga sebab, yaitu:

1.      Mahram sebab Keturunan
Orang-orang yang termasuk mahram sebab keturunan ada tujuh, sebagaimana firman Allah:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya: “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isteri kamu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 
[QS. an-Nisâ’ (4): 23]

Berdasarkan ayat di atas, dapat diketahui bahwa orang-orang yang termasuk mahram, yaitu yang tidak boleh dinikahi dengan sebab keturunan ada tujuh golongan, yaitu:
1.      ibu-ibumu;
2.      anak-anakmu yang perempuan
3.      saudara-saudaramu yang perempuan;
4.      saudara-saudara ayahmu yang perempuan;
5.      saudara-saudara ibumu yang perempuan;
6.      anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki;
7.      anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan
Anak akibat dari perzinahan termasuk mahram, dengan berdalil pada keumuman firman Allâh; “...anak-anakmu yang perempuan [QS. An-Nisâ’ (4): 23].

2.      Mahram sebab Susuan
Mahram sebab susuan ada tujuh golongan, sama seperti mahram sebab keturunan, tanpa pengecualian. Inilah pendapat yang dipilih setelah ditahqiq (ditelliti) oleh al-Hâfizh 'Imâdud-Din Ismâ'il bin Katsir [Tafsirul-Qur’ânil-Azhim, 1/511].

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ :قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بِنْتِ حَمْزَةَ لَا تَحِلُّ لِي يَحْرُمُ مِنْ الرَّضَاعِ مَا يَحْرُمُ مِنْ النَّسَبِ هِيَ بِنْتُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَة.
 [رواه البخاري]

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata bahwa Nabi saw bersabda tentang putri Hamzah: “Dia tidak halal bagiku, darah susuan mengharamkan seperti apa yang diharamkan oleh darah keturunan, dan dia adalah putri saudara sepersusuanku (Hamzah)".” [HR. al-Bukhâri]

Al-Qur'ân menyebutkan secara khusus dua bagian mahram sebab susuan, yaitu yang terdapat pada QS. an-Nisâ’ (4): 23:

وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ...
(1) dan ibu-ibumu yang menyusui kamu;
(2) dan saudara-saudara perempuan sepersusuan.


3.      Mahram sebab Perkawinan
Mahram sebab perkawinan ada enam golongan, yaitu
a.    "Dan ibu-ibu istrimu (mertua)" [QS. an-Nisâ’ (4): 23]
b.    "Dan istri-istri anak kandungmu (menantu)" [QS. an-Nisâ’ (4): 23]
c.    "Dan anak-anak istrimu yang dalam pemelihraanmu dari istri yang telah kamu campuri" [QS. an-Nisâ’ (4): 23]
Menurut Jumhur Ulama, termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaan seseorang mempunyai hubungan mahram dengannya. Anak tiri menjadi mahram jika ibunya telah dicampuri, tetapi jika belum dicampuri maka dibolehkan untuk menikahi anaknya setelah bercerai dengan ibunya. Sedangkan ibu dari seorang perempuan yang dinikahi menjadi mahram hanya sebab akad nikah, walaupun si puteri belum dicampuri, kalau sudah akad nikah maka si ibu haram dinikahi oleh yang menikahi puterinya.
d.    "Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu (ibu tiri)" [QS. an-Nisâ’ (4): 22]
وَلَا تَنْكِحُوا مَا نَكَحَ آَبَاؤُكُمْ مِنَ النِّسَاءِ.
Wanita yang dinikahi oleh ayah menjadi mahram bagi anak ayah dengan hanya aqad nikah, walaupun belum dicampuri oleh ayah, maka anak ayah tak boleh menikahinya.
e.    "Dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara" [QS. an-Nisâ’ (4): 23]
Rasulullah saw melarang menghimpunkan dalam perkawinan antara perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, dan menghimpunkan antara perempuan dengan bibinya dari pihak ayah. Nabi saw bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُجْمَعُ بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَعَمَّتِهَا وَلَا بَيْنَ الْمَرْأَةِ وَخَالَتِهَا . [رواه مسلم]
Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda: ‘Tidak boleh perempuan dihimpun dalam perkawinan antara saudara perempuan dari ayah atau ibunya’.” [HR. Muslim]

f.     "Dan diharamkan juga kamu mengawini wanita yang bersuami" [QS. an-Nisâ’ (4): 24]

وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ النِّسَاء
 Mahram disebabkan keturunan dan susuan bersifat abadi, begitu pula mahram disebabkan pernikahan. Kecuali menghimpun dua perempuan bersaudara, menghimpun perempuan dengan bibinya, yaitu saudara perempuan dari pihak ayah atau ibu, bila yang satu meninggal dunia maka boleh menikah dengan yang lain, karena bukan menghimpun dalam keadaan sama-sama masih hidup. Usman bin Affan menikahi Ummu Kulsum setelah Ruqayyah wafat, kedua-duanya adalah anak Nabi saw.
Demikianlah perempuan-perempuan yang termasuk mahram yang tidak boleh dinikahi oleh seorang laki-laki. Adapun perempuan-perempuan yang selain di atas adalah bukan mahram, sehingga halal dinikahi.

وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِين
Artinya: "Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina" [QS. an-Nisâ’ (4): 24].


Ada beberapa ketentuan dalam agama Islam yang berkaitan dengan mahram, selain dari larangan menikahi. Di antaranya batasan aurat perempuan bagi mahram abadi adalah seluruh badan selain wajah, kepala, leher dan betis (di bawah lutut). Sedangkan untuk mahram mu’aqqat (tidak abadi) adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Aurat laki-laki bagi mahram dan selain mahram adalah antara pusar dan lutut.

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.

 َقُلْ لِلْمُؤمِنِيْنَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْ ذلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَايَصْنَعُوْنَ وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلاَيُبْدِيْنَ زِيْنًتَهُنَّ إِلاَّ مَاظَهَرَ مِنْهَا ...  
Artinya: “Katakanlah olehmu (wahai Muhammad) kepada para lelaki mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah maha Mengetahui pada apa-apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada para wanita mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa tampak darinya ...” [QS. an-Nûr (24): 30]

Dan hadits Nabi Muhammad saw:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَسْمَاء "يَا أَسْمَاء !إِنَّ المَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتْ الْمََحِيْضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هذَا وَهذَا" وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ . [أخرجه أبو داود]
Artinya: “Rasulullah saw bersabda kepada Asma’: “Wahai Asma’! sesungguhnya seorang perempuan yang sudah haid tidak boleh dilihat darinya kecuali ini dan ini” dan dia mengisyaratkan kepada wajah dan kedua telapak tangannya.” [HR. Abu Dawud]

Di samping itu, pada dasarnya setiap orang tidak dilarang berduaan dengan mahramnya, namun akan lebih baik jika dia mengusahakan untuk tidak pernah berduaan dalam suatu kamar, khususnya dengan mahram mu’aqqat (ipar atau bibi istri) untuk suatu hal yang tidak penting, demi menyelamatkan diri dari fitnah.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bish-shawab. *L.Sy)


Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Kamis, 06 November 2014

,

Hadis Tentang Posisi Tumit Nabi SAW Ketika Sujud


Pertanyaan Dari:
PCM Bumiayu, Brebes


Pertanyaan:
1.      Di tempat kami, ada yang berfaham bahwa ketika sujud, posisi tumit dirapatkan. Dalilnya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak. Bagaimana status hadis tersebut?
2.      Bagaimana posisi kaki yang benar ketika sujud, merapat ataukah merenggang?

Jawaban
Terima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan. Jawaban kami adalah sebagai berikut. Untuk mengetahui tingkat kesahihan sebuah hadis, ada tiga langkah yang harus kita lakukan, yaitu:
1.      Melakukan takhrij, yaitu melacak hadis pada sumber-sumber aslinya (al-mashadir al-ashliyyah), yaitu kitab-kitab hadis primer yang memiliki sanad.   
2.      Melakukan i’tibar, yaitu menguraikan sanad untuk mengetahui kemungkinan adanya mutabi’ dan syahid. Mengetahui mutabi dan syahid diperlukan untuk mencari jalur penguat jika nanti ditemukan adanya perawi yang daif dalam sanad hadis tersebut. Mutabi adalah hadis yang memiliki kesamaan (baik redaksi maupun subtansinya) dengan hadis yang lain, disertai kesamaan perawi pada tingkatan sahabat. Syahid adalah hadis yang memiliki kesamaan (baik redaksi maupun subtansinya) dengan hadis yang lain, namun memiliki perbedaan perawi pada tingkatan sahabat.
3.      Melakukan kritik hadis. Dalam tahap ini yang dilakukan adalah mengumpulkan informasi tentang:
a. ketersambungan sanad (اتصال السند),
b. kredibilitas perawi (عدالة الرواة),
c. akurasi  hafalan perawi (ضبط الرواة),
d. koherensi dengan hadis lain (عدم الشذوذ),
e. keselamatan dari kecacatan tersembunyi (السلامة من العلة)

Berikut penelitian hadis riwayat al-Hakim yang saudara tanyakan.

Takhrij Hadis al-Hakim dan I’tibar Sanad

Setelah dilakukan penelitian, hadis riwayat al-Hakim tentang posisi kaki Rasulullah yang merapat ketika sujud, ternyata terdapat pula dalam Sunan al-Baihaqi, Sahih Ibnu Hibban dan Sahih Ibnu Khuzaimah. Berikut redaksi hadisnya:

قَالَتْ عَائِشَةُ زَوْجُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- : فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- وَكَانَ مَعِى عَلَى فِرَاشِى ، فَوَجَدْتُهُ سَاجِدًا رَاصًّا عَقِبَيْهِ مُسْتَقْبِلاً بِأَطْرَافِ أَصَابِعِهِ الْقِبْلَةَ ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِعَفْوِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ ، وَبِكَ مِنْكَ ، أُثْنِى عَلَيْكَ لاَ أَبْلُغُ كُلَّ مَا فِيكَ. فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ : يَا عَائِشَةُ أَخَذَكِ شَيْطَانُكِ. فَقُلْتُ : أَمَا لَكَ شَيْطَانٌ؟ قَالَ : مَا مِنْ آدَمِىٍّ إِلاَّ لَهُ شَيْطَانٌ ». فَقُلْتُ : وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ :« وَأَنَا ، لَكِنِّى دَعَوْتُ اللهَ عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ. [رواه ابن خزيمة و ابن حبان و البيهقي و الحاكم]

Artinya: “Aisyah istri Rasulullah berkata: Saya merasa kehilangan Rasullalah saw, padahal beliau beserta saya di tempat tidur saya, (kemudian saya mencari beliau) dan saya temukan Rasulullah sedang sujud dalam keadaan merapatkan dua tumitnya sambil menghadapkan ujung-ujung dua telapak kakinya ke arah kiblat. Aku mendengar beliau berdoa: “A’udzu biridlaka min sakhatika, wa ‘afwika min ‘uqubatika, wa bika minka, utsnia alaika la ablughu kulla ma fika”. Setelah selesai, beliau berkata kepadaku: “Wahai Aisyah, syaitan yang  ada pada dirimu telah memperdayaimu.” “Syaitan apa yang engkau maksud (wahai Rasulullah)?” Beliau menjawab: “Tidaklah setiap anak Adam, kecuali ia memiliki syaitan (yang berada bersamanya)”. Aku mengatakan: “Apakah engkau juga, ya Rasulullah?” beliau menjawab: “Aku juga, tetapi aku berdoa kepada Allah, maka aku selamat”. [HR Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Baihaqi dan al-Hakim]
 


 
Keterangan: Jaringan sanad di atas menunjukkan bahwa hadis tersebut tidak mempunyai syahid, sedangkan mutabi terdapat pada perawi setelah Said bin Abi Maryam.

Kritik Hadis :

Penelitian terhadap hadis di atas langsung dilakukan dengan melihat aspek kredibilitas dan akurasi perawi serta melihat kemungkinan terjadinya pertentangan dengan hadis lain yang lebih sahih. Untuk mempersingkat penelitian, faktor ketersambungan sanad dan keselamatan dari cacat yang tersembunyi tidak dilakukan.

a.    Kredibilitas dan Akurasi Hafalan Perawi
Setelah memperhatikan sanad (rantaian perawi) di atas, ditemukan seorang perawi yang lemah (dlaif) dalam aspek akurasi hafalan (dhabt), yaitu sosok yang bernama Yahya bin Ayyub. Berikut ini kami kutipkan data tentang perawi tersebut dari kitab Tahdzibu al-Tahdzib (vol. 11, hal. 163) karya Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H/1448 M).
Nama : Yahya bin Ayyub al-Ghafiqi Abul Abbas al-Mishri (dijuluki Bapaknya Abbas, berasal dari Mesir).

Guru-gurunya: Humaid, Yahya bin Said, Abdullah bin Abi Bakar, Abdullah bin Dinar, Rabi’ah bin Ja’far, Ismail bin Umayyah, Bakir bin Asyaj, Ibnu Juraij, Ubaidullah bin Abi Ja’far, Ubaidullah bin Jahr, Umarah bin Ghaziah, Abul Aswad, Muhammad bin Ajlan, Yazid bin Abi Habib, Yazud bin al-Had, Malik bin Anas dan Khalaq.

Murid-muridnya: Ibnu Juraij, al-Laits, Juraij bin Hazim, Ibnu Wahab, Ibnu Mubarak, Asyhab, Zaid bin Habba, Yahya bin Ishq, al-Maqbari, Abu Shalil, Said bin Abi Maryam, Said bin Afir, Ishaq bin al-Farat, Musa bin A’yun, Amru bin Rabi, dll.

Penilaian ulama terhadapnya:
a.       Imam Ahmad : hafalannya lemah,
b.      Ibnu Main : salih, tsiqah (kredibel)
c.       Ibnu Abi Hatim : jujur, hadisnya dapat ditulis tetapi tidak dapat dijadikan hujjah (dalil)
d.      Abu Dawud : tsiqah (kredibel)
e.       Nasai : Ia tidak apa-apa, di lain kesempatan ia menilai Yahya tidak kuat
f.       Ibnu Hibban : tsiqah (kredibel)
g.      Ibnu Saad: munkarul hadis
h.      Daruquthni : di sebagian hadisnya ada ketumpangtindihan
i.        Tirmidzi mengutip Bukhari : tsiqah (kredibel)
j.        Ismaili: tidak dapat dijadikan hujah
k.      Abu Zar’ah: ada kecacatan dalam hafalannya
l.     Ibnu Adi : jika ia menerima hadisnya dari orang yang tsiqah (kredibel), hadisnya tidak munkar. Ia jujur.
m.    Uqaili : memasukkannya ke dalam al-dlu’afa (orang-orang yang lemah)

Keterangan :
Melihat penilaian para kritikus hadis di atas, dapat disimpulkan bahwa Yahya bin Ayyub adalah pribadi yang dipermasalahkan oleh para ulama. Sekalipun banyak ulama yang menganggapnya memiliki kredibilitas yang baik, namun ia adalah sosok yang memiliki hafalan yang lemah. Kelemahan hafalan tersebut juga tidak dapat dikuatkan oleh hadis yang lain karena tidak terdapat mutabi dan syahid untuknya. Kelemahan dalam faktor hafalan inilah yang membuat hadis di atas menjadi bernilai daif.

b.   Meneliti Koherensi Hadis
Langkah selanjutnya dalam menguji kesahihan hadis ini, adalah melihat apakah ia bertentangan (inkoheren) dengan hadis lain atau tidak. Setelah dilakukan penelitian, ternyata hadis ini bertentangan dengan hadis lain yang bernilai sahih, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasai.  Di mana dalam hadis tersebut tidak disebutkan kisah Aisyah melihat kaki Rasulullah yang berdempet ketika salat. Hadis yang bertentangan dengan hadis yang lebih sahih disebut hadis syadz dan dikategorikan sebagai hadis daif.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِى عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِى الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ : اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. [رواه مسلم و النسائي]

Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah r.a. dia berkata, “Aku merasa kehilangan Rasulullah saw suatu malam dari tempat tidur, maka aku cari-cari beliau, selanjutnya kenalah satu telapak tanganku pada dua telapak kaki Rasulullah saw ketika beliau berada di masjid. Dua telapak kaki beliau tegak. Beliau berdo’a: “Ya Allah aku berlindung dari kemarahan-Mu dengan keridaan-Mu, berlindung dengan ampunan-Mu dari siksaan-Mu, saya berlindung pada-Mu dari siksaan-Mu, aku berlindung pada-Mu dari-Mu, aku tidak bisa menghitung pujian bagi-Mu, yakni Engkau seperti Engkau memuji pada diri-Mu.” [HR Muslim dan an-Nasai]

Keterangan :
Tampak dalam hadis ini, ada bagian cerita yang sama dan ada bagian yang berbeda dengan hadis riwayat al-Hakim di atas. Bagian yang sama adalah laporan bahwa Aisyah dalam suatu malam kehilangan Rasulullah dari sisinya dan kemudian berusaha mencari beliau. Kesamaan ini menunjukkan bahwa kejadian yang dilaporkan oleh al-Hakim dan Muslim dalam hadis masing-masing adalah peristiwa yang sama. Adapun bagian yang berbeda dalam dua hadis ini adalah hadis Muslim menceritakan Aisyah sempat memegang kaki Rasulullah ketika sujud dan hadis al-Hakim tidak. Hadis Muslim tidak menyebutkan Aisyah melihat posisi kaki Rasulullah ketika sujud yang merapat, sedangkan hadis al-Hakim menyebutkannya. Terakhir, hadis al-Hakim menyebutkan terjadinya dialog antara Rasulullah dan Aisyah setelah beliau selesai salat, sedangkan hadis Muslim tidak.

Hadis Abu Dawud dapat dijadikan penguat?

Setelah diteliti, hadis al-Hakim, ad-Daruquthni, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah yang disebutkan di atas ternyata memiliki pendukung dari hadis lain, yaitu hadis riwayat Abu Dawud, yang secara substansi senada dengan hadis di atas. Dalam hadis Abu Dawud ini, Rasulullah saw diriwayatkan memerintahkan untuk merapatkan kedua paha ketika salat. Jika kita perhatikan, merapatkan paha sama memang artinya dengan merapatkan kedua kaki. Namun demikian, sayang sekali setelah diteliti, hadis Abu Dawud  tidak dapat dijadikan penguat, karena hadis ini sendiri juga bernilai lemah. Terdapat seorang perawi yang bernama Darraj yang ditolak oleh para kritikus hadis. Ibnu Abi Hatim menilainya lemah dan Imam Ahmad menilainya munkarul hadis (dikutip dari Tahdzibu al-Tahdzib Ibnu Hajar, vol. 3, hal. 180). Dengan demikian ia tidak dapat dijadikan penguat untuk hadis al-Hakim, ad-Daruquthni, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah di atas. Berikut ini adalah jaringan sanad dan hadisnya:



  
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَفْتَرِشْ يَدَيْهِ افْتِرَاشَ الْكَلْبِ وَلْيَضُمَّ فَخِذَيْهِ.

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Jika salah seorang di antara kalian sujud, janganlah ia menempelkan kedua tangannya ke lantai (iftirasy), seperti perilaku anjing (yang sedang duduk) dan hendaklah ia merapatkan kedua pahanya.”

Hadis tentang Merenggangkan Kaki

Di sisi lain, terdapat pula hadis riwayat Abu Dawud yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. salat dengan merenggangkan kedua pahanya. Berikut adalah jaringan sanad beserta hadisnya.

عَنْ أَبِى حُمَيْدٍ بِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ وَإِذَا سَجَدَ فَرَّجَ بَيْنَ فَخِذَيْهِ غَيْرَ حَامِلٍ بَطْنَهُ عَلَى شَىْءٍ مِنْ فَخِذَيْهِ

Artinya: “Dari Abu Humaid, (ia meriwayatkan sifat salat nabi), bahwa beliau apabila sujud merenggangkan kedua pahanya dan tidak membebankan perutnya pada kedua pahanya.”

 

 Namun, setelah dilakukan penelitian ditemukan data bahwa menurut Nashiruddin Albani dalam Irwaul Ghalil, jilid 2 hal. 80, perawi yang bernama ‘Utbah dalam jaringan sanad di atas bernama lengkap Utbah bin Abi Hakim al-Hamdani. Jika memang nama lengkap Utbah menurut Albani tersebut benar, maka berarti ia adalah sosok yang lemah (daif). Karena dalam Taqribu al-Tahdzib, jilid 2, hal. 380, Ibnu Hajar menyebut Utbah bin Abi Hakim al-Hamdani sebagai “shaduq yukhtik katsiran” (perawi yang jujur, namun sering melakukan kesalahan).
 
Kesimpulan:

1.    Hadis Aisyah dari Muslim dan an-Nasai sahih, tetapi tidak ada di dalamnya dilalah (keterangan yang menunjukkan) tentang posisi kaki yang merapat ataupun merenggang.
2.    Baik hadis yang menyebutkan kaki Rasulullah saw merapat dan merenggang ketika sujud, kedua-duanya adalah daif, sehingga keduanya tidak bisa dijadikan hujah. 
3.    Karena tidak ada satupun informasi yang sahih mengenai hal ini, maka dapat dipilih posisi manapun yang nyaman untuk dilakukan.

Wallahu a’lam bish-shawab. *M-Rf)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Fatwa Lainnya