sponsor

Slider

Fatwa Seputar Sholat

Fatwa Seputar Puasa

Pernikahan

Zikir dan Do'a

Fatwa Lainnya...

Fatwa Seputar Makanan

Hukum Oral Sex dan Onani dengan Tangan Istri




Pertanyaan:
Dalam beberapa situs di internet ada perbedaan tentang oral sex (memasukan kemaluan ke mulut) dengan istri. Bagaimana oral sex menurut Muhammadiyah?
Bagaimana melakukan hubung­an dengan istri saat menstruasi? Untuk menjaga nafsu, meminta istri untuk onani kemaluan suami (dengan tangan istri supaya puas)? Apakah diharamkan?
Purwanto, alamat e-mail purwantonamaku@gmail.com
(disidangkan pada hari Jum’at, 10 Muharram 1437 H / 23 Oktober 2015 M).

Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaan saudara dan berikut ini jawabannya:
Islam adalah agama syamil (komprehensif). Artinya, ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Aktivitas apa saja yang dilakukan manusia pasti ada petunjuk dan hukumnya di dalam Islam. Mulai dari hal-hal yang remeh temeh hingga hal-hal yang penting dan besar. Semuanya pasti ada petunjuk dan hukumnya di dalam Islam, termasuk untuk masalah yang bersifat individual maupun masalah-masalah keluarga, masyarakat dan negara, baik permasalahan sosial, kesehatan, ekonomi, politik, agama, ketatanegaraan maupun masalah-masalah lainnya. Hal ini karena memang Islam diturunkan oleh Allah sebagai hudan (petunjuk) bagi manusia agar mereka selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.

Islam juga telah mengantisipasi perkembangan umat manusia dari zaman ke zaman. Perkembangan ini tentu membawa permasalahannya masing-masing. Permasalahan zaman sekarang berbeda dengan permasalahan zaman dahulu. Demikian pula dengan permasalahan zaman yang akan datang, tentu berbeda dan akan lebih kompleks dibanding dengan permasalahan masa kini. Semua itu telah diantisipasi dan Islam tetap akan mampu memberikan petunjuk dan sekaligus hukum bagi setiap permasalahan tersebut. Oleh karena itu, mustahil ada perbuatan atau aktivitas yang dilakukan oleh manusia lalu Islam tidak mempunyai petunjuk dan hukumnya. Jika hal ini terjadi, maka Islam tidak akan sesuai lagi untuk setiap zaman dan tempat (universal), dan Islam hanya sesuai untuk zaman Nabi saw. dan di jazirah Arab saja.

Di antara permasalahan keluarga yang diatur oleh Islam adalah masalah hubungan kelamin (seksual) antara suami istri. Dalam masalah ini, Islam memandang bahwa hubungan seks dapat menjadi ladang ibadah yang berpahala. Hubungan seks juga bisa memperat kasih sayang antara suami istri. Menurut Islam juga, hubungan seks yang sah antara suami istri itu sebagai usaha memperoleh keturunan. Lebih dari itu, hubungan seks adalah hiburan, dan dalam waktu yang sama, hubungan seks bisa menjaga pandangan dan kema­luan dari hal-hal yang diharamkan.

Islam telah memberikan bebera­pa adab atau tata cara melakukan hubungan seks agar bermanfaat bagi suami istri. Di antara adab tersebut ialah memenuhi ajakan pasangan berhubungan badan jika tidak ada uzur, menjaga penampilan dan memakai haruman, membaca doa, memulai dengan permainan, diam dan tidak berisik ketika melakukannya, posisi persetubuhan sekehendak hati, hendaknya menunggu pasangannya sampai selesai, mandi atau wudhu jika mau mengulang persetubuhan atau mau tidur, dan tidak menceritakan persetubuhan yang telah dilakukan kepada orang lain.
Menjawab permasalahan pertama yang saudara tanyakan yaitu masalah oral sex, dapat dikatakan bahwa oral sex termasuk mula’abah (fore play) yaitu permainan pendahuluan sebelum melakukan hubungan seks. Namun ada juga yang memberikan pengertian oral sex seperti berikut: berhubungan seks dengan cara menyentuh, mencium dan memasukkan kemaluan ke oral (mulut) pasangannya.

Menurut sebagian ulama oral sex ini hukumnya haram. Dalil mereka tatkala mengharamkan perkara tersebut adalah firman Allah:


“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki, dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya, dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman,” (Qs. Al-Baqarah [2]: 223).

Ayat ini menunjukkan bahwa harts atau ladang tempat bercocok tanam yang diperintahkan untuk didatangi, tiada lain adalah faraj atau vagina. Oleh karena itu pemuasan nafsu di selain vagina adalah dilarang, termasuk di dubur atau mulut.
Larangan memasukkan kemaluan ke dubur ditegaskan di dalam Hadits berikut:



“Dari Abu Hurairah diriwayatkan ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Dilaknatlah orang yang menggauli istrinya di duburnya.” [HR. Abu Dawud].

Namun menurut sebagian ulama yang lain, tiada dalil khusus mengenai oral sex. Tiada perintah maupun larangan dalam masalah ini, sehingga dengan demikian hal tersebut diserahkan kepada selera masing-masing pasangan suami istri. Apalagi terdapat hadits berikut:




“Dari Anas  diriwayatkan bahwa orang-orang Yahudi itu, jika istri mereka haid mereka tidak mengajaknya makan bersama dan tidak menyetubuhinya di rumah (mereka). Maka sahabat-sahabat Nabi saw bertanya kepada Nabi saw (mengenai hal itu), sehingga Allah Ta’ala menurunkan ayat: ”Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ”Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid” (Qs Al-Baqarah [2]: 222). Lalu Rasulullah saw bersabda: ”Lakukanlah apa saja selain persetubuhan (di faraj).” Hal tersebut sampai kepada orang-orang Yahudi sehingga mereka berkata: Orang ini (Nabi Muhammad saw) tidak meninggalkan suatu urusan apa pun dari urusan kita melainkan dia ingin menyalahi kita. Kemudian Usaid bin Khudhair dan Ibad bin Basyar datang (kepada Rasulullah saw) seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang Yahudi berkata demikian dan demikian, sehingga kami tidak menyetubuhi mereka (istri-istri kami). Wajah Rasulullah saw lalu berubah sehingga kami menyangka baginda murka kepada keduanya. Keduanya lalu keluar dan ada hadiah berupa susu dipersembahkan kepada Rasulullah saw. Beliau lalu memanggil keduanya dan memberi mereka berdua susu tersebut, sehingga keduanya mengetahui bahwa beliau tidak murka kepada keduanya.” (HR Muslim).

Hadits ini membenarkan suami bergaul dengan istrinya yang sedang haid dengan cara apa saja –termasuk dengan mulut atau anggota badan lainnya– asal terjaga kebersihan dan kesehatannya.

Adapun ayat yang menjadi dalil bagi ulama yang melarang oral sex, yaitu ayat yang memerintahkan untuk mendatangi ladang tempat bercocok tanam (Qs. Al-Baqarah [2]: 223), ayat tersebut harus dikaitkan dengan ayat sebelumnya yang melarang suami mendatangi istri pada saat haid di tempat haidnya. Jika istri sudah habis masa haidnya dan sudah bersuci maka diperintahkan untuk menyetubuhi faraj istri dengan cara atau gaya apa pun yang dikehendaki keduanya, selama sasaran utamanya pada faraj atau vagina istri. Jadi dengan demikian, berdalil dengan ayat di atas untuk menyatakan keharaman oral sex dinilai kurang tepat.

Pada dasarnya, oral sex itu jika dilakukan oleh pasangan suami istri sebagai bagian dari proses merangsang sebelum persetubuhan maka perbuatan itu mungkin masih bisa dikatakan dalam batas kewajaran. Dan ditinjau dari segi medis pula, hal ini tidak berdampak apa pun kecuali sebelumnya telah terinfeksi penyakit kelamin atau mulut. Namun yang perlu ditekankan di sini ialah, bagi mayoritas pasangan suami istri, oral sex adalah sesuatu yang menjijikkan. Apalagi air yang keluar dari kemaluan sebelum keluarnya sperma adalah air madzi yang najis dan berdampak tidak baik dari segi medis. Tambahan pula, fungsi mulut bukan untuk aktivitas seperti itu.

Dan apabila oral sex dilakukan sengaja untuk mengeluarkan sperma, maka hal ini hukumnya adalah ma­kruh yakni lebih baik ditinggalkan. Hal ini, sekali lagi karena kurang etis. Tapi hukumnya tidak sampai haram, karena tidak ada dalil pasti yang mengharamkannya, terutama jika kedua-dua pasangan suami istri itu menghendakinya.

Hukum makruh itu artinya sebaiknya ditinggalkan. Jadi dengan demikian oral sex itu lebih baik di­tinggalkan meskipun ada dalil yang membenarkannya, yaitu firman Allah yang bersifat umum:


“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu (zina, homoseksual, dan sebagainya) maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas” [Qs Al-Mukminun [23]: 5-7].

Selanjutnya, menjawab pertanyaan saudara yang kedua yaitu hukum onani dengan tangan istri yang sedang haid, maka perlu diketahui bahwa ketika istri sedang haid, suami haram menyetubuhinya di farajnya. Dia harus menunggu sampai istrinya itu suci dan bersuci dari haid. Yang demikian itu berdasarkan firman Allah berikut:



“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ”Haid itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri (menyetubuhi) dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci (sesudah mandi, ada pula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar). Apabila mereka telah bersuci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Qs Al-Baqarah [2]: 222).

Apabila suami sangat meng­inginkan juga menyetubuhi istrinya yang sedang haid, maka dia boleh melakukan apa saja terhadap istrinya asal menjauhi farajnya. Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw yang menyuruh melakukan ”apa saja” kecuali menyetubuhinya di farajnya sebagaimana Hadits riwayat dari Anas yang telah dikutip di atas.

Oleh karena itu, termasuk dalam kategori ”lakukanlah apa saja” terhadap istri yang sedang haid yang dibenarkan syariat Islam menurut Hadis di atas adalah suami boleh melampiaskan nafsu dan mengeluarkan spermanya dengan menggunakan tangan atau paha atau anggota badan lain dari istrinya. Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa seluruh tubuh istri halal bagi suami kecuali duburnya.
Nabi saw bahkan juga pernah memberi contoh bagaimana menggauli istri yang sedang haid. Hal ini sebagaimana diceritakan sendiri oleh istri beliau Maimunah ra dalam Hadits berikut:

“Dari Maimunah diriwayatkan, ”Rasulullah saw apabila ingin menggauli salah seorang dari istri-istri beliau, beliau menyuruhnya untuk memakai kain (sarung) sedang ia dalam keadaan haid,” [HR al-Bukhari].

Hal ini dibenarkan dan ditegaskan oleh istri Nabi saw yang lain yaitu Aisyah ra dalam Hadits berikut:


Dari Aisyah diriwayatkan, ia berkata: “Jika salah seorang dari kami (istri-istri Rasulullah saw) haid lalu Rasulullah saw mau menggaulinya, beliau memerintahkan supaya menutup bagian keluarnya haid kemudian beliau menggaulinya. Aisyah berkata lagi: “Siapakah di antara kamu yang mampu menguasai nafsunya sebagaimana Rasulullah saw menguasai nafsunya?” (HR. al-Bukhari). 
Wallahu a’lam bish-shawab.•

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Download Buku Tuntunan Ibadah Ramadhan (Edisi Revisi)


Alhamdulillah, buku saku Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan ini dapat diterbitkan kembali. Pada edisi revisi ini terdapat beberapa koreksi. Pertama, koreksi atau perbaikan teknis, tata letak, pembetulan kesalahan cetak. Kedua, koreksi atau perbaikan materi, khususnya beberapa hadits yang dijadikan sumber. 

Buku ini dicetak dalam ukuran saku supaya mudah dibawa dan dapat dibaca sewaktu-waktu. Versi lengkap Tuntunan Ramadhan dapat dilihat di buku Tuntunan Ramadlan terbitan Suara Muhammadiyah. Diharapkan, dengan membaca buku kecil ini para pembaca dapat menunaikan ibadah pada bulan Ramadhan secara lebih baik dan khusyuk. Buku ini juga diedarkan dalam format e-book, dan dapat diunduh di bawah ini. 

Kepada para pembaca kami harapkan masukan, kritik dan sarannya untuk penerbitan buku ini selanjutnya. Demikian, semoga bermanfaat. Amin


Link DOWNLOAD
atau Klik Gambar berikut

Tuntunan Ibadah Ramadhan

Link Alternatif Via Ziddu:
Tuntunan Ibadah di Bulan Ramadhan
Himpunan Putusan Tarjih PDF


Tags: Buku Panduan Puasa, Tanya Jawab Puasa, Seputar Puasa Ramadhan, Tuntunan Puasa, Buku Saku Ramadhan, Buku Puasa, Tuntunan Puasa Ala Nabi, Sunah Puasa, Amalan Ketika Berpuasa, tuntunan I'tikaf, Yang membetalkan Puasa dll
 
 Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Hukum Menyekolahkan Anak di Sekolah Non-Muslim

Hukum Menyekolahkan Anak di Sekolah Non-Muslim 



Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendapatkan pertanyaan dari majalah SuaraAisyiyah berkenaan dengan hukum menyekolahkan anak di sekolah non-muslim. Pertanyaan tersebut kemudian disidangkan pada dua kali kesempatan, Pertama: Rapat Divisi Fatwa dan Pengembangan Tuntunan pada hari Jumat, tanggal 6 Maret 2015; Kedua, Rapat Pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid pada hari senin, tanggal  9 Maret 2015. Berikut ini Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid tentang hukum menyekolahkan anak di sekolah non-muslim:  

A.   Dasar Pertimbangan Fatwa:

1. Pentingnya pendidikan bagi anak
a.       QS. Al-Nisa ayat 9 

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Menurut ayat di atas, pendidikan bagi anak adalah prinsip dasar yang harus dipenuhi. Dalam kondisi bagaimanapun, anak harus mendapatkan haknya mengenyam pendidikan. Anak yang tidak mengenyam bangku sekolah, akan menjadi generasi yang lemah, dan lebih dari itu bahkan mereka dapat menjadi problem bagi peradaban.
 

2. Pentingnya pendidikan agama bagi anak
a.       QS. Al-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. 

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa tanggungjawab orangtua terhadap anak adalah menyelamatkannya dari api neraka. Diantara jalan yang harus ditempuh untuk sampai ke sana adalah dengan memberikan bekal ilmu agama yang memadai dalam diri anak. Anak harus mendapatkan pengetahuan akidah, ibadah dan akhlak sesuai ajaran Islam. 

b.      Hadis Riwayat Bukhari-Muslim : 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ]متفق عليه[
“Dari Abu Hurairah Ra. Ia berkata. Rasulullah Saw. bersabda: setiap anak dilahirkan sesuai dengan fitrah (Islam). Kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” [HR Muttafaq Alaih].

Dalam hadis di atas Nabi menerangkan bahwa pada prinsipnya anak lahir dengan fitrah sebagai seorang muslim. Perubahan keyakinan dalam diri anak sesungguhnya terjadi akibat dari pendidikan yang diberikan orang tua dan lingkungan di sekitar anak. Oleh karena itu, menjadi penting orang tua menanamkan akidah Islam yang kuat dan memberikan ilmu agama yang cukup kepada anak.

3. Prinsip tentang relasi muslim dengan non-mulim
a.       QS. al-Mumtahanah ayat 8-9

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ () إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ()
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa sepanjang non-muslim tidak memerangi dan berlaku kasar terhadap umat Islam, maka hubungan sosial kemasyarakatan harus berlangsung secara damai.
b.      Hadis Riwayat Ahmad 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ نَاسٌ مِنَ الأَسْرَى يَوْمَ بَدْرٍ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ فِدَاءٌ فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمفِدَاءَهُمْ أَنْ يُعَلِّمُوا أَوْلاَدَ الأَنْصَارِ الْكِتَابَةَ قَالَ فَجَاءَ يَوْماً غُلاَمٌ يَبْكِى إِلَى أَبِيهِ فَقَالَ مَا شَأْنُكَ قَالَ ضَرَبَنِى مُعَلِّمِى.]رواه احمد و قال شعيب الأرناؤوط حديث حسن[
Artinya:
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Sebagian dari tawanan perang Badar tidak memiliki (uang) untuk tebusan. Maka Rasulullah menentukan tebusan mereka mengajarkan anak-anak dari kalangan Anshar baca tulis”. Ibnu Abbas berkata. “Seorang anak suatu ketika datang kepada ayahnya sambil menangis. Ayahnya bertanya, “ada apa dengan dirimu?”. Ia menjawab, “guruku memukulku” [HR Ahmad, Komentar Syuaib al-Arnauth, hadis ini hasan]

Dalam hadis di atas, kita mendapatkan informasi bahwa pada zaman Rasulullah sendiri pernah terjadi anak-anak dari keluarga muslim belajar kepada non-muslim. Namun, patut pula dicatat bahwa hal tersebut terjadi karena saat itu belum ada dari kalangan muslim yang bisa membaca dan menulis. Selain itu, para tahanan non-muslim yang mengajar juga tidak mungkin memurtadkan anak yang belajar pada mereka karena status mereka sebagai tawanan perang dan berada dalam pengawasan. 

 4. Prinsip tidak boleh ikut dalam peribadatan agama orang lain
a.       QS. al-Kafirun 

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ () لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ () وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ () وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ () وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ () لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ()
“Katakanlah wahai orang-orang yang kafir. Aku tidak menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian tidak menyembah apa yang aku sembah. Aku bukanlah penyembah sebagaimana kamu menyembah. Dan kamu bukanlah penyembah sebagaimana aku menyembah. Untukmu agamu dan untukku agamaku”.

Dalam ayat di atas, umat Islam diajarkan bahwa akidah Islam tidak boleh tergadaikan dengan cara mengikuti keyakinan dan peribadatan agama lain. Kepada non-muslim pun diserukan untuk tidak menyampaikan mempengaruhi umat Islam agar mengikuti agama mereka.


5.       UU NOMOR 39 TAHUN 1999TENTANGHAK ASASI MANUSIA
a.       Pasal 22 ayat (1)
“Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

b.      Pasal 55
“Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat intelektualitas dan biaya di bawah bimbingan orang tua dan atau wali”.


6.       UU NO 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK
a.       Pasal 6 :
“Setiap anak berhak untuk beribadah menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat kecerdasan dan usianya, dalam bimbingan orang tua”.

b.      Pasal 37 ayat (3):
“... anak yang diasuh harus yang seagama dengan agama yang menjadi landasan lembaga yang bersangkutan”.

c.       Pasal 42 ayat (2) :
Sebelum anak dapat menentukan pilihannya, agama yang dipeluk anak mengikuti agama orangtuanya.

d.      Pasal 43 ayat (1) :
“Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, orang tua, wali, dan lembaga sosial menjamin
perlindungan anak dalam memeluk agamanya”.

ayat (2) :
“Perlindungan anak dalam memeluk agamanya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi pembinaan, pembimbingan, dan pengamalan ajaran agama bagi anak”.


7.       UU NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISDIKNAS
a.       Pasal 12 ayat (1) a:
Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhakmendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yangseagama;


8.       Kenyataan bahwa lembaga pendidikan non-negeri senantiasa membawa misi atau ideologi tertentu yang harus dijadikan pertimbangan saat menyekolahkan anak.

B.    Fatwa:
Berdasarkan beberapa pertimbangan di atas, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan fatwa sebagai berikut:

  1. Orangtua wajib menjamin keselamatan dan kemurnian akidah anak.
  2. Haram bagi orang tua menyekolahkan anak di sekolah yang mengancam akidah Islam.
  3. Haram bagi orang tua menyekolahkan anak di sekolah yang menghalangi anak belajar agama Islam.
  4. Haram bagi orang tua menyekolahkan di sekolah non-muslim yang tidak mengajarkan pelajaran agama Islam.
  5. Haram bagi orang tua membiarkan anak mengikuti pendidikan atau pelajaran agama non-Islam.
  6. Bersekolah di lembaga non-muslim yang tidak termasuk ke dalam poin 2-5 di atas hukumnya boleh, dengan catatan:
a.      Bukan untuk jenjang pendidikan usia dini (PAUD) sampai S1, karena pada usia tersebut anak dianggap rentan dan mudah terpengaruh oleh keyakinan agama lain.
b.     Dalam kondisi ketiadaan alternatif lembaga pendidikan Islam atau negeri, seperti tinggal di kawasan mayoritas non-muslim. 
c.      Harus ada jaminanakan adanya pengajaran agama Islamuntuk anak dari pihak sekolah.
d.     Orang tua harus terus menanamkan pada anaknya identitas, kesadaran dan perilaku bahwa dirinya adalah orang yang beragama Islam.

C. Rekomendasi:
Untuk mendukung fatwa di atas, Majelis Tarjih dan Tajdid juga menyampaikan seruan berikut ini:

  1. Diharapkan sekolah Islam secara umum dan sekolah Muhammadiyah secara khusus agar meningkatkan kualitas pendidikan lembaga masing-masing agar dapat menjadi pilihan utama bagi masyarakat.
  2. Lembaga pendidikan Islam, khususnya Muhammadiyah, memiliki kewajiban untuk menyantuni keluarga-keluarga tidak mampu dengan cara memberikan beasiswa. Sebab, mempertahankan dan merawat akidah anak, bukan hanya tugas orangtua semata, tetapi juga tugas umat Islam secara keseluruhan. Majelis Tarjih dan Tajdid dalam hal ini sangat menekankan dan agar menjadi perhatian serius lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah jangan sampai ada keluarga yang menyekolahkan anaknya di sekolah keagamaan non-muslim karena faktor biaya yang mahal di sekolah Muhammadiyah atau karena mereka tidak memiliki biaya.

Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Doa Iftitah Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah

Pilihan Doa Iftitah
Menurut Putusan Tarjih Muhammadiyah

Pertanyaan Dari:
H. Mufti Muhammadi, muftimuhammadi@yahoo.co.id,
SMA Muhammadiyah 11 Rawamangun
(Disidangkan pada hari Jum’at, 16 Jumadilakhir 1432 H / 20 Mei 2011 M)


Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr.wb.
Mohon penjelasan tentang perbedaan doa iftitah dari buku produk Muhammadiyah yang berbeda. Pertama: buku Shalat Sesuai Tuntunan Nabi saw yang disusun oleh Bapak Syakir Jamaluddin, MA., penerbit LPPI UMY dengan kata pengantar ketua MTT PP Muhammadiyah. Pada halaman 73 dijelaskan bahwa doa iftitah itu ada 3 macam, yaitu: Allahumma Ba’id …, Allahu akbar Kabira … dan Wajjahtu wajhiya … . Sementara dalam buku HPT, pilihan doa iftitah hanya dua, yaitu: Allahumma ba’id baini … dan Wajjahtu wajhiya … . Kami umat yang di bawah merasa bingung membaca kedua buku ini, oleh karena itu mohon penjelasan dengan hadis shahih.
Terima kasih.


Jawaban:

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.
Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan oleh Bapak H. Mufti Muhammadi kepada Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pertanyaan yang serupa sesungguhnya banyak dilontarkan oleh warga Muhammadiyah baik secara langsung maupun tertulis. Buku yang berjudul “Shalat Sesuai Tuntunan Nabi saw:  Mengupas Kontroversi Hadis Sekitar Shalat” yang disusun oleh Bapak Syakir Jamaluddin, M.A., tersebut memang banyak disoroti oleh warga Muhammadiyah, baik terkait dengan eksistensi buku maupun beberapa materi yang terkait seputar shalat. Terkait dengan eksistensi buku, warga Muhammadiyah banyak yang bertanya apakah buku tersebut merupakan produk Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (MTT PP) Muhammadiyah ataukah bukan. Pertanyaan tersebut muncul setidaknya karena dua hal, pertama; karena diterbitkan oleh institusi atau lembaga di lingkungan Muhammadiyah, kedua; karena kata pengantar buku tersebut  ditulis oleh Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A. yang saat ini menjadi Ketua MTT PP Muhammadiyah. Sedangkan dari aspek materi seputar salat yang paling banyak disoroti, antara lain; tentang pilihan salam dan bacaan do’a iftitah pada saat salat.
Terkait dengan permasalahan pertama, perlu dijelaskan bahwa produk MTT PP Muhammadiyah dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu:
1.      Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah, yakni hasil Muktamar/Musyawarah Nasional Tarjih yang kemudian dibukukan dan disebut Himpunan Keputusan Majelis Tarjih atau sering disingkat HPT;
2.      Fatwa Tarjih, yaitu keputusan MTT PP Muhammadiyah atas persoalan yang muncul di masyarakat. Fatwa Tarjih bias merupakan respon MTT PP Muhammadiyah atas persoalan yang terjadi di masyarakat atau merupakan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan kepada MTT PP Muhammadiyah dan kemudian dimuat di rubrik Tanya Jawab Agama Majalah Suara Muhammadiyah. Saat ini sebagian Fatwa-fatwa Tarjih telah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Tanya Jawab Agama sejumlah 6 jilid.
3.      Wacana, yaitu pengembangan pemikiran dalam soal keagamaan yang bersifat tidak mengikat secara kelembagaan, diterbitkan dalam bentuk buku maupun jurnal.

Adapun buku yang disusun oleh Bapak Syakir Jamaluddin, MA., tidak termasuk ke dalam salah satu dari ketiga produk MTT PP Muhammadiyah tersebut. Buku tersebut merupakan hasil karya pribadi salah seorang warga Muhammadiyah dan bukan merupakan keputusan MTT PP Muhammadiyah. Dengan demikian, buku tersebut TIDAK termasuk buku tuntunan resmi yang dikeluarkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah.

Pada prinsipnya setiap keputusan MTT PP Muhammadiyah selalu dilandasi oleh dalil-dalil yang terkuat baik dari al-Qur’an maupun sunnah-sunnah Nabi saw yang maqbulah. Namun demikian, setiap orang terbuka untuk mengkaji dan mengkritisi keputusan Tarjih asalkan dilakukan secara argumentatif serta berpedoman kepada semangat dan Manhaj Tarjih. Bahkan berbeda dalam beberapa hal dengan putusan Tarjih bukanlah sesuatu yang terlarang dalam kaidah Tarjih itu sendiri. Dalam Penerangan tentang Hal Tarjih yang dikeluarkan oleh Hoofdbestuur Moehammadijah (PP Muhammadiyah) tahun 1935 dinyatakan: …kami berseru juga kepada sekalian ulama’ supaya suka membahas pula akan kebenaran putusan Majelis Tarjih itu dimana kalau terdapat kesalahan atau kurang tepat dalilnya diharap supaya diajukan, syukur kalau dapat memberikan dalilnya yang lebih tepat dan terang, yang nanti akan dipertimbangkan pula, kemudian kebenarannya akan ditetapkan dan digunakan.” (lihat kata pengantar, halaman. viii dan HPT, hlm. 371-372)

Dengan demikian, setiap warga Muhammadiyah maupun pihak lain berhak untuk mengkritisi setiap keputusan Tarjih dengan mengemukakan argumentasi (dalil) yang lebih kuat (rajih), lalu diajukan kepada MTT PP Muhammadiyah untuk dibahas baik oleh Tim Fatwa MTT PP Muhammadiyah maupun dibawa ke Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah. Sebab pendapat yang berbeda dengan keputusan Tarjih dari hasil kajian dan penelitian seseorang baik dari warga Muhammadiyah maupun pihak lain merupakan hal yang tidak bisa dihindari maupun dilarang. Namun secara norma dan etika berorganisasi, pendapat perseorangan tidak semestinya disebarkan di lingkungan warga Persyarikatan. Terlebih lagi, jika pendapat pribadi tersebut dibenturkan dengan pendapat resmi Persyarikatan yang telah diputuskan berdasarkan ijtihad jama’i (ijtihad kolektif). Sebab dalam kaidah MTT PP Muhammadiyah, jika ada keputusan  di tingkat yang lebih rendah (apalagi pendapat perseorangan) berbeda dengan keputusan di tingkat yang lebih tinggi, maka keputusan (pendapat) yang digunakan adalah keputusan di tingkat yang lebih tinggi.

Karena itu, terkait dengan bacaan doa iftitah yang bapak tanyakan, maka dari beberapa alternatif bacaan doa iftitah yang ada, MTT PP Muhammadiyah memilih doa yang dianggap lebih kuat, yaitu: 

اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ.


Atau dengan membaca: 

وَجَّهْتُ وَجْهِىَ لِلَّذِى فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (وََأَنَا مِِنَ الْمُسْلِمِينَ)، اللَّهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لاَ إِلَهَ لِى إِلاَّ أَنْتَ أَنْتَ رَبِّى وَأَنَا عَبْدُكَ ظَلَمْتُ نَفْسِى وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِى فَاغْفِرْ لِى ذُنُوبِى جَمِيعًا لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ وَاهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِى يَدَيْكَ وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

MTT PP Muhammadiyah melalui mudarasah dan ijtihad jama’i (ijtihad kolektif) memilih kedua alternatif doa tersebut di atas secara hirarkis. Artinya bahwa alternatif pertama yaitu “Allahuma baid …” secara kualitas periwayatan lebih sahih (hadis sahih riwayat al-Bukhari, Muslim dan lainnya dari Abu Hurairah r.a.) dan lebih praktis (ringkas) dibandingkan dengan alternatif lainnya. Namun demikian, doa iftitah yang berbunyi “Wajjahtu wajhiya …” dapat pula dijadikan sebagai alternatif bacaan doa iftitah, karena dalil yang digunakan termasuk hadis sahih riwayat Muslim dan lainnya.

Sampai saat ini, kedua alternatif bacaan doa iftitah tersebut di atas belum pernah  diubah atau dibatalkan dengan keputusan yang memiliki kekuatan yang sama (Musyawarah Nasional Tarjih). Oleh sebab itu, kedua alternatif doa iftitah tersebut di atas merupakan pendapat dan pilihan resmi Persyarikatan untuk dapat dijadikan pedoman bagi warga Muhammadiyah, tanpa menafikan adanya alternatif lain yang juga sahih.

Memang pada dasarnya, semua amalan yang memiliki landasan atau dalil yang kuat dapat diamalkan. Namun terkadang dalam beberapa persoalan yang memiliki variasi atau beragam cara dan bacaannya (at-tanawwu’ fil-‘ibadah), maka dalam rangka mempermudah (at-taisir) dan agar tidak membingungkan warga dan masyarakat awam, maka MTT PP Muhammadiyah memilih salah satu atau beberapa alternatif yang dianggap paling kuat untuk dijadikan pedoman resmi warga Muhammadiyah baik lewat kajian Tim Fatwa MTT PP Muhammadiyah maupun Musyawarah Nasional Tarjih Muhammadiyah dengan melibatkan perwakilan tokoh dan ulama’ se-Indonesia baik dari kalangan Muhammadiyah maupun lainnya.

Dari uraian di atas, maka semakin jelas bahwa buku yang bapak tanyakan tersebut bukanlah produk MTT PP Muhammadiyah, sehingga tidak menjadi sikap dan pendirian resmi Muhammadiyah. Namun demikian dapat saja dibaca dan digunakan oleh siapa saja sebagai salah satu referensi untuk menambah wawasan dan cakrawala keilmuan dalam masalah terkait. Sedangkan untuk menghilangkan kebingungan bapak dan masyarakat awam, karena tidak (dapat) melakukan kajian secara mandiri dan mendalam, maka hendaknya merujuk kepada keputusan MTT PP Muhammadiyah yang telah ada.
Wallahu a’lam bish-shawab. *rf)


Pimpinan Pusat Muhammadiyah