Memuat...

Jumat, 27 Mei 2011

Cara Duduk Tasyahud pada Shalat Dua Rakaat

CARA DUDUK TASYAHUD PADA SHALAT WAJIB ATAU SUNNAH
YANG DUA RAKA'AT

Pertanyaan Dari:
Achmad, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah
(disidangkan pada Jum’at, 15 Shaffar 1429 H / 22 Februari 2008 M)


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Pada akhir-akhir ini sering ditemukan tata cara pelaksanaan shalat yang bermacam-macam, di antaranya adalah cara duduk dalam shalat. Dengan ini saya tanyakan: Bagaimana cara duduk tasyahud pada shalat wajib atau sunnat yang jumlah rakaatnya 2 (dua), iftirasy atau tawarruk?


Jawaban:

Masalah yang saudara tanyakan memang merupakan masalah yang sering ditanyakan pada akhir-akhir ini. Hal ini karena sering dijumpainya pelaksanaan cara duduk pada rakaat terakhir dalam shalat 2 (dua) rakaat, seperti shalat shubuh dan shalat sunat yang berbeda dengan yang selama ini dilaksanakan oleh mayoritas muslim pada umumnya. Untuk menjawab pertanyaan saudara, apakah duduk pada shalat wajib atau sunnat yang jumlah rakaatnya 2 (dua) itu duduk iftirasy atau tawarruk, perlu kami sampaikan bahwa Tim Fatwa Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah memberikan jawaban singkat tentang pertanyaan dalam masalah ini dengan merujuk kepada hadits sebagai berikut;
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ أَنَّهُ كَانَ جَالِسًا مَعَ نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ. [أخرجه البخارى: الصلاة: سنة الجلوس فى التشهد]
Artinya: Diriwayatkan dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Atha', bahwa ketika ia duduk bersama beberapa orang shahabat Nabi saw, ia menceritakan cara shalat Nabi saw, kemudian berkatalah Abu Humaid as-Saa‘idiy: Saya adalah orang yang paling hafal shalat Rasulullah saw. Saya melihat beliau ketika bertakbir menjadikan (mengangkat) kedua tangannya setentang dengan bahunya, dan apabila ruku‘ beliau meletakkan kedua tangannya dengan kuat pada lututnya serta membungkukkan punggungnya, apabila mengangkat kepala beliau meluruskan (badannya) sehingga semua tulang-tulang kembali pada tempatnya. Kemudian apabila bersujud beliau meletakkan kedua tangannya dengan tidak membentangkannya dan tidak pula menyempitkan keduanya serta menghadapkan semua ujung jari-jari kedua kakinya ke arah qiblat. Kemudian apabila duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kaki kirinya dan mendirikan tapak kaki kanannya, dan apabila duduk pada rakaat terakhir, beliau memajukan kaki kirinya ke depan dan mendirikan tapak kaki yang lain (kanan) dan duduk di tempat duduknya.” [Ditakhrijkan oleh al-Bukhariy: ash-Shalah: Sunah al-Julus fi at-Tasyahhud)
Perlu diketahui, apabila memperhatikan hadits-hadits tentang tata cara shalat, maka dapat disimpulkan bahwa  duduk dalam pelaksanaan shalat ada dua macam, yaitu; Pertama, duduk iftirasy. Duduk iftirasy adalah duduk dalam shalat dengan cara duduk di atas telapak kaki kiri dan telapak kaki kanan ditegakkan. Duduk iftirasy ini dilakukan pada waktu duduk di antara dua sujud, ketika duduk setelah bangkit dari sujud kedua pada rakaat pertama dan ketiga, dan ketika duduk tasyahhud awal.  Kedua, duduk tawarruk, yaitu duduk dengan cara memajukan kaki kiri di bawah kaki kanan dan menegakkan telapak kaki kanan. Duduk semacam ini dilakukan pada waktu tasyahhud akhir.
Dalam masalah duduk iftirasy dan duduk tawarruk ini ada perbedaan pendapat di kalangan imam madzhab. Menurut madzhab asy-Syafi'i, duduk macam apapun yang dilakukan oleh seseorang dalam shalat, maka shalatnya sah dan disunahkan duduk iftirasy, sedang pada tasyahhud kedua disunahkan duduk tawarruk. Madzhab Maliki berpendapat bahwa dalam shalat disunahkan duduk tawarruk, yaitu dengan cara meletakkan pinggul sebelah kiri, dan memasukkan kaki kiri di bawah kaki kanan serta menegakkan telapak kaki kanan. Sedang madzhab Hambali berpendapat bahwa disyariatkan duduk iftirasy pada duduk tasyahhud pertama dalam shalat yang memiliki dua tasyahhud, dan pada duduk tasyahhud kedua disyariatkan duduk tawarruk.
Kembali kepada pertanyaan saudara, apakah pada rakaat terakhir dalam shalat 2 (dua) rakaat itu duduk iftirasy atau tawarruk? Kita perhatikan kembali hadits riwayat Abu Humaid As-Saa'idi yang menceritakan bahwa dirinya benar-benar mencermati shalat Rasulullah saw. Dalam hadits tersebut diceritakan bahwa Rasulullah saw bertakbir dengan mengangkat kedua tanganya sejajar dengan bahunya, beliau ruku dengan menggenggam lutut dengan kedua tangannya, kemudian melakukan i'tidal dengan berdiri tegak, lalu sujud dengan meletakkan kedua tangannya dengan tidak membentangkan dan menyempitkannya, apabila beliau duduk pada rakaat kedua beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan apabila duduk pada rakaat terakhir, beliau memajukkan kaki kiri (di bawah kaki kanan) dan menegakkan kaki kanannya.
Ibnu Hajar dalam kitab Fath al-Bariy Syarh Kitab al-Bukhariy menjelaskan bahwa hadits ini (riwayat Abu Hamid as-Saa'idy)  dijadikan sebagai dalil yang kuat oleh imam asy-Syafi'i. Hadits tersebut menjelaskan bahwa cara duduk pada tasyahhud awal berbeda dengan cara duduk pada tasyahhud akhir. Hal ini berbeda dengan pendapat Malikiyah dan Hanafiyah yang berpendapat bahwa cara duduk pada tasyahhud awal maupun tasyahhud akhir adalah sama. Madzhab Malikiyyah menyamakan cara duduk pada kedua tasyahhud dalam shalat dengan duduk tawarruk, sedang Hanafiyyah sebaliknya yaitu dengan cara duduk iftirasy.
Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa  kalimat " وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ " (apabila duduk pada rakaat yang terakhir) menjadi dalil bahwa duduk tasyahhud pada shalat shubuh seperti duduk tasyahhud akhir pada shalat lainnya, karena kalimat فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ sifatnya umum, yaitu raka'at terakhir pada shalat yang jumlah rakaatnya 2 (dua), 3 (tiga) atau 4 (empat).
Tim Fatwa sependapat dengan pendapat imam asy-Syafi'i dalam memahami kalimat "raka'at terakhir" (وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَة) yang terdapat dalam hadits al-Bukhari, karena alasan tersebut sangat kuat dan dikuatkan dengan riwayat Abu Humaid as-Saa'idy yang terdapat dalam kitab Musnad Imam Ahmad berikut:
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ سَمِعْتُهُ وَهُوَ فِي عَشَرَةٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحَدُهُمْ أَبُو قَتَادَةَ بْنُ رِبْعِيٍّ يَقُولُ أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِصَلاَةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ............... ثُمَّ صَنَعَ كَذَلِكَ حَتَّى إِذَا كَانَتِ الرَّكْعَةُ الَّتِي تَنْقَضِي فِيهَا الصَّلاَةُ أَخَّرَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَقَعَدَ عَلَى شِقِّهِ مُتَوَرِّكًا ثُمَّ سَلَّمَ. [رواه أحمد: باقى مسند الأنصارى]
Artinya: "Diriwayatkan dari Abu Humaid as-Saa'idy ia berkata, saya telah mendengarnya (Muhammad bin Atha') dan berada di tengah-tengah sepuluh shahabat Nabi saw.- di antaranya adalah Abu Qatadah- , ia (Abu Humaid as-Saa'idy) berkata; Saya adalah orang yang paling hafal shalat Rasulullah saw ........................... kemudian beliau melaksanakan seperti itu sehingga apabila beliau berada pada rakaat yang terakhir, beliau mengeluarkan (telapak) kaki kirinya dan duduk pada bagian kirinya dengan cara duduk tawarruk, kemudian beliau (mengucapkan) salam." [HR. Ahmad: Baqi Musnad al-Anshary]
Dengan demikian maksud kalimat  وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ اْلآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ اْلأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ  (dan apabila duduk pada rakaat terakhir, beliau memajukan kaki kirinya ke depan dan mendirikan tapak kaki yang lain (kanan) dan duduk di tempat duduknya) adalah apabila beliau duduk pada raka'at terakhir baik shalat yang terdiri dari 2 (dua) rakaat, 3 (tiga) rakaat atau 4 (empat) rakaat, baik dalam shalat wajib maupun shalat sunnat yang setelah selesai berdo'a lalu ditutup dengan salam; beliau duduk dengan memajukan (telapak) kaki kirinya (di bawah kaki kanan) dan duduk di tempat duduknya.
Dengan memperhatikan hadits-hadits di atas berikut syarahnya, dapat disimpulkan bahwa duduk pada rakaat terakhir (duduk tasyahud) baik shalat itu 2 (dua) rakaat, 3 (tiga) rakaat atau 4 (empat) rakaat adalah dengan cara duduk tawarruk.

Wallahu a'lam bishshawab. *A.56h)

 Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
,

Cara Takbir Zawaid dalam Shalat Idain


Pertanyaan Dari:
Arief Fadhillah, Bandung Jawa Barat
(disidangkan pada Jum’at, 23 Muharram 1429 H / 1 Februari 2008 M)


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Selama 2 (dua) tahun terakhir kami telah mengikuti pelaksanaan ibadah shalat Idain (Idul Fithri dan Idul Adha) di 4 (empat) tempat yang berbeda, dan terakhir kami mengikuti shalat Idul Fithri tanggal 12 Oktober 2007 yang diselenggarakan oleh warga Muhammadiyah Sukamenak Bandung Jawa Barat. Dalam pelaksanaan shalat Id di Bandung tersebut ada perbedaan dengan apa yang biasa dilakukan oleh Pemerintah dan Muhammadiyah di tempat lain.
Pertanyaan kami:

1. Mengapa sesama Muhammadiyah terdapat perbedaan pada cara pelaksanaan takbir shalat Idain?
2. Apa yang menyebabkan adanya perbedaan dalam pelaksanaan takbir shalat Idain tersebut? 

Kami mohon penjelasan dari Majlis Tarjih dan Tajdid tentang perbedaan tata cara pelaksanaan shalat Id tersebut.


Jawaban:

Persoalan yang saudara tanyakan sama dengan apa yang telah ditanyakan oleh saudara Muhammad Parigi dari Sulawesi Tengah, dan jawaban lengkap tentang itu bisa dibaca pada buku Tanya Jawab Agama jilid 1 hal. 113-115. Secara ringkas dapat kembali kami sampaikan: Muktamar Tarjih ke-20 di Garut tahun 1976 telah memutuskan bahwa takbir dalam shalat Idain ialah tujuh kali (takbir) pada rakaat pertama dan lima kali (takbir) pada rakaat kedua. Keputusan Muktamar Tarjih tersebut telah ditanfidzkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1397/1977.
Adapun keputusan itu berbunyi:

ثُمَّ يُكَبِّرُ بَعْدَ تَكْبِيْرَةِ الإِحْرَامِ سَبْعَ تَكْبِيْرَاتٍ لِلرَّكْعَةِ الأُوْلَى وَخَمْسًا لِلثَّانِيَةِ.

Artinya: “Kemudian sesudah takbiratul-ihram, membaca tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua.”
Sedangkan dalil-dalil yang dijadikan alasan adalah:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ فِي اْلأُولَى سَبْعًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ وَفِي اْلآخِرَةِ خَمْسًا قَبْلَ الْقِرَاءَةِ. [رواه الترمذى]

Artinya: “Sesungguhnya Nabi saw. bertakbir pada shalat dua hari raya tujuh kali (takbir) pada rakaat pertama dan lima kali (takbir) pada rakaat kedua sebelum membaca (surat)." [HR. at-Tirmidzi]

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي عِيدٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيرَةً سَبْعًا فِي اْلأُولَى وَخَمْسًا فِي اْلآخِرَةِ وَلَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا. [رواه أحمد]

Artinya: “Sesungguhnya Nabi saw. bertakbir pada (shalat) hari raya dua belas kali takbir, pada rakaat pertama tujuh kali (takbir) dan pada rakaat yang terakhir (kedua) lima kali (takbir), dan beliau tidak shalat (sunnah) baik sebelum maupun sesudahnya.” [HR Ahmad]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ قَالَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّكْبِيرُ فِي الْفِطْرِ سَبْعٌ فِي اْلأُولَى وَخَمْسٌ فِي اْلآخِرَةِ وَالْقِرَاءَةُ بَعْدَهُمَا كِلْتَيْهِمَا. [رواه أبو داود]

Artinya: “Diriwayatkan dari Abdillah bin 'Amr bin 'Ash ia berkata, Nabi saw bersabda: Takbir di hari raya fithri tujuh kali (takbir) pada (rakaat) pertama dan lima kali (takbir) pada rakaat yang akhir (kedua), dan bacaan sesudah kedua-duanya.” [HR. Abu Dawud]

Untuk menjawab pertanyaan saudara (mengapa sesama Muhammadiyah ada perbedaan dalam pelaksanaan takbir shalat Id dan apa yag menyebabkan adanya perbedaan tersebut), sesuai dengan hasil pembacaan kami terhadap dokumen Tarjih yang ada kaitannya dengan pertanyaan saudara, perlu kami sampaikan beberapa hal sebagai berikut:

Mengenai jumlah takbir zawaid di dalam shalat Idain terdapat dua pendapat. Pertama, pendapat yang mengatakan bahwa takbir zawaid itu tujuh dan lima, yakni sesudah takbiratul ihram membaca tujuh kali takbir pada rakaat pertama, dan lima kali takbir pada raka'at kedua setelah takbir intiqal. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa takbir dalam shalat Idain itu satu–satu, yaitu takbir dalam shalat Idain dilakukan satu kali pada raka'at pertama dan kedua sebagaimana halnya shalat biasa seperti shalat jum'at dan lain-lain.

Pendapat pertama (takbir zawaid berjumlah tujuh–lima) beralasan pada hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzy sebagaimana dijelaskan di atas. Juga berdasarkan kepada Qaidah Tarjih tentang "hadits-hadits dhaif  yang dapat dijadikan hujjah". Qaidah yang dimaksud adalah:

الأَحَادِيْثُ الضَّعِيْفَةُ يَعْضَدُ بَعْضُهَا بَعْضًا لاَيُحْتَجُّ بِهَا إِلاَّ مَعَ كَثْرَةِ طُرُقِهَا وَفِيْهَا قَرِيْنَةٌ تَدُلًّ عَلَى ثُبُوْتِ أَصْلِهَا وَلمَ ْ تُعَارِضِ الْقُرْآنَ وَالْحَدِيْثَ الصَّحِيْحَ.

Artinya: “Hadits-hadits dhaif yang menguatkan satu pada lainnya tidak dapat digunakan sebagai hujjah, kecuali apabila banyak jalannya dan terdapat padanya qarinah yang menunjukkan ketetapan asalnya dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits Shahih.”

Dari qaidah tersebut dapat dipahami bahwa hadits-hadits tentang takbir zawaid, meskipun tingkatannya tidak sampai pada derajat hadits shahih bahkan dikatakan dha'if, tetapi jalannya banyak dan terdapat qarinah yang menunjukkan asalnya, yaitu bahwa  takbir tujuh–lima dipraktekkan oleh beberapa shahabat.

Sedangkan pendapat kedua, takbir dalam shalat Idain itu satu–satu seperti yang dipegangi oleh Muhammadiyah Jawa Barat, beralasan bahwa hadits-hadits yang menunjukkan takbir tujuh–lima semuanya tidak ada yang sampai pada derajat shahih, dan hadits dhaif meskipun banyak jumlahnya tidak bisa saling kuat menguatkan untuk dijadikan hujjah. Muhammadiyah Jawa Barat belum menerima Qaidah "hadits-hadits dhaif yang dapat dijadikan hujjah", karena bertentangan dengan (pemahaman) definisi "as-sunnah ash-shahihah" yang terdapat dalam definisi ad-Din menurut keputusan Tarjih. Menurut Muhammadiyah Jawa Barat, yang dimaksud as-sunnah ash-shahihah dalam definisi ad-Din adalah hadits shahih, sedangkan hadits hasan, baik hasan lidzatih atau hasan lighairih tidak termasuk hadits shahih. Definisi ad-Din yang telah diputuskan oleh Majlis Tarjih pada tahun 1954 adalah sebagai berikut:

الدِّيْنُ (أى الدين الإسلامي) الَّذِى جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلّم هُوَ مَا أَنْزَلَهُ اللهُ فِى الْقُرْآن ِوَمَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ الصَّحِيْحَةُ مِنَ اْلأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِى وَاْلإِرْشَادَاتِ لِصَلاَحِ اْلعِبَادِ دُنْيَاهُمْ وَأُخْرَاهُمْ.

Artinya: "Agama (agama Islam) adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. ialah apa yang diturunkan Allah di dalam al-Qur'an dan yang tersebut dalam sunnah yang shahih, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan di akhirat.

Demikianlah penjelasan atau jawaban yang dapat kami sampaikan semoga menjadikan wawasan bagi kita semua.

Wallahu a'lam bishshawab. *A.56h) 
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah
,

Perzinahan dan Hukumnya

SEPUTAR MASALAH PERZINAHAN DAN AKIBAT HUKUMNYA

Pertanyaan Dari:
Ny. Fiametta di Bengkulu
(disidangkan pada Jum’at 25 Zulhijjah 1428 H / 4 Januari 2008 M
dan 9 Muharram 1429 H / 18 Januari 2008 M)


Pertanyaan:

1.      Bagaimana menurut Hukum Islam, hubungan anak yang terlahir hasil dari perzinahan terhadap ibu yang melahirkannya dan terhadap pria yang berzinah dengan ibunya (menzinahi ibunya).
2.      Jika pria dan perempuan yang berzinah ini dinikahkan di saat perempuan tersebut dalam keadaan hamil kemudian bercerai, apakah menurut Hukum Islam, pria itu mempunyai tanggung jawab atau tidak terhadap biaya hidup anak yang lahir dari hasil zinah tersebut?
3.     Jika tidak bercerai, apakah anak hasil zinah tersebut sama haknya dengan anak-anak yang dilahirkan setelah pernikahan? Baik tentang nashab (hubungan dengan pria tersebut), warisan, wali nikah dan seterusnya?
4.   Dalam surat An-Nur ayat 3; “laki-laki yang berzinah tidak mengawini melainkan perempuan yang berzinah atau perempuan yang musyrik dan perempuan yang berzinah tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzinah atau laki-laki yang musyrik dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.

Pertanyaan: Bagaimana kalau perempuan mukmin (perempuan baik-baik) itu dinikahi oleh seorang pria yang pernah berzinah (pezinah) sedangkan dia tidak tahu bahwa pria itu pernah berzinah dan menikah dengan perempuan yang dizinahinya dan kemudian bercerai, apakah pernikahan itu haram? Karena pada waktu menikah dan tercantum dalam buku nikah, sang suami mengaku masih bujangan? Apakah perkawinan tersebut sebaiknya diteruskan atau harus bercerai? Dan apakah perempuan tersebut (sang isteri) berdosa atau tidak menurut hukum Islam?

Demikian pertanyaan dari saya, mohon untuk dijawab menurut hukum Islam, terima kasih atas penjelasannya.

Jawaban:

Berikut ini jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saudari:

1.    Anak itu dinasabkan kepada ibu yang melahirkannya, bukan kepada pria yang menzinai ibunya. Ini karena anak tersebut hasil perzinaan dan lahir di luar perkawinan yang sah, dan perzinaan tidak menimbulkan dampak penetapan nasab anak tersebut kepada laki-laki yang menzinai ibunya, menurut kesepakatan jumhur (mayoritas) ulama. Alasannya, nasab itu adalah kenikmatan yang dikurniakan Allah. Dengan ditetapkannya nasab itu seorang ayah wajib menafkahi, mendidik, menjadi wali nikah, mewariskan dan lainnya. Oleh karena nasab itu adalah kenikmatan, maka ia tidak boleh didapatkan dengan sesuatu yang diharamkan.
Dalil yang mendasari hal tersebut adalah hadis berikut:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اْلوَلَدُ لِلْفِرَاشِ وَلِلْعَاهِرِ اْلحَجَرُ [رواه البخاري ومسلم]

Artinya: “Anak itu dinasabkan kepada yang memiliki tempat tidur (laki-laki yang menikahi ibunya), dan bagi yang melakukan perzinaan (hukuman) batu (rajam sampai mati)”. [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Hadis ini menunjukkan bahwa hanya anak yang lahir dari perkawinan sah saja yang dinasabkan kepada ayahnya yang mempunyai tempat tidur (maksudnya yang menikahi ibunya). Adapun zina itu tidak layak untuk dijadikan sebab menetapkan nasab, bahkan pezina itu harus mendapatkan hukuman rajam.

Pendapat yang menasabkan anak hasil zina kepada ibunya ini juga sesuai dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 100 yang berbunyi: “Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya” dan Undang-Undang (UU) No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 43 ayat (1) yang berbunyi: “Anak yang dilahirkan diluar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya”.

2.   Sebelum menjawab pertanyaan saudari tentang pertanggungjawaban pria yang berzina terhadap anak hasil perzinaannya, berikut ini diuraikan hukum menikahi perempuan yang sedang hamil:

a.    Jika A (laki-laki) dan B (perempuan) berzina lalu keduanya menikah ketika si B hamil, maka para ulama sepakat membolehkannya. Hal ini sejalan pula dengan KHI pasal 53 ayat (1) yang berbunyi: “Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya” dan ayat (2) yang berbunyi: “Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dapat dilangsungkan tanpa menunggu lebih dahulu kelahiran anaknya”. Pernikahan itu sah dan keduanya boleh melakukan hubungan kelamin layaknya suami istri.

Kemudian jika si B melahirkan anak hasil perzinaan tersebut setelah 6 (enam) bulan dari pernikahan, maka anak tersebut dinasabkan kepada si A. Alasannya ialah, tempo kehamilan itu minimalnya adalah enam bulan menurut kesepakatan para ulama. Setelah itu si A bertanggung jawab atas segala sesuatu yang berkenaan dengan anaknya itu seperti nafkah, pendidikan, kesehatan, perwalian, pewarisan dan lainnya sama persis dengan anak hasil pernikahan yang sah. Namun jika si B melahirkan anak hasil zina tersebut sebelum 6 (enam) bulan dari pernikahannya dengan A, maka anak tersebut dinasabkan kepada si B. Si A tetap bertanggung jawab atas nafkah, pendidikan dan kesehatannya, karena ia adalah anak istrinya. Tapi dari segi perwalian dan pewarisan, si A tidak berhak menjadi wali anak tersebut dan tidak waris-mewarisi dengannya.

Perlu diketengahkan di sini bahwa menurut peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, anak hasil zina yang lahir sebelum 6 (enam) bulan tersebut tetap dapat dinasabkan kepada si A, karena anak yang sah menurut KHI pasal 99 adalah: a. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah, b. Hasil perbuatan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut.  Demikian pula disebutkan dalam UU No. 1/1974 pasal 42: “Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah”. Besar kemungkinan, dalam KHI dan UU No. 1/1974 ditetapkan demikian adalah demi kemaslahatan dan kebaikan anak tersebut.

b.    Jika A dan B dalam contoh di atas berzina, lalu B yang sedang hamil menikah dengan C, bukan dengan A yang menghamilinya. Hukum masalah ini diperselisihkan para ulama; ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Namun demikian kami cenderung untuk membolehkannya, dengan alasan wanita hamil karena zina tidak mempunyai masa iddah, sebagaimana wanita hamil yang diceraikan atau ditinggal mati oleh suaminya. Setelah mereka menikah maka mereka boleh berhubungan badan layaknya suami istri. Adapun kekhawatiran pendapat yang mengatakan tidak boleh berhubungan badan supaya air mani dua orang laki-laki tidak tercampur dalam rahim wanita tersebut adalah tidak sesuai dengan ilmu kedokteran karena hal itu tidak mungkin terjadi setelah wanita itu hamil. Kemudian, jika anak itu lahir maka ia tidak dinasabkan kepada si A maupun si C karena ia adalah hasil perzinaan. Anak hasil perzinaan tersebut dinasabkan kepada ibunya yaitu B. Setelah itu si C tetap bertanggung jawab atas nafkah, pendidikan dan kesehatan anak tersebut, karena ia adalah anak istrinya. Namun dari segi perwalian dan pewarisan, si C maupun si A tidak berhak menjadi wali anak tersebut dan tidak waris-mewarisi dengannya.

Namun perlu diketengahkan di sini bahwa menurut peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia, anak hasil zina tersebut dimungkinkan untuk dinasabkan kepada laki-laki yang menikahi ibunya (si C), karena menurut KHI pasal 99 anak yang sah adalah: a. Anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah, b. Hasil perbuatan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut. Demikian pula disebutkan dalam UU No. 1/1974 pasal 42: “Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah”. Besar kemungkinan, dalam KHI dan UU No. 1/1974 ditetapkan demikian adalah demi kemaslahatan dan kebaikan anak tersebut.

3.     Jika anak hasil perzinaan itu telah dinasabkan kepada pria yang menzinai ibunya karena pria tersebut telah menikahi ibunya itu, lalu pria tersebut menceraikan ibunya itu, maka hubungan antara pria dan anaknya itu tetap sebagai ayah dan anak dari segi nasab, nafkah, pendidikan, kesehatan, perwalian, pewarisan dan seterusnya. Ini karena perceraian suami istri tidak mempunyai dampak dalam hubungan nasab seorang ayah dengan anaknya.

4.    Mengenai surat an-Nur ayat 3 dapat kami jelaskan sebagai berikut: Para ulama tafsir menerangkan bahwa maksud ayat tersebut adalah laki-laki dan perempuan yang menjadikan perzinaan sebagai kebiasaan atau pekerjaan, itulah yang tidak boleh dan tidak layak untuk menikahi atau dinikahi orang-orang yang beriman. Laki-laki mukmin tidak boleh dan tidak pantas menikahi mereka, dan perempuan mukminah tidak boleh dan tidak pantas dinikahi mereka. Adapun laki-laki dan perempuan yang pernah berzina dan telah bertaubat, kemudian menikah dengan orang mukmin atau mukminah, hal itu dibenarkan. Apabila sesudah pernikahan masih juga berbuat zina, maka kepada pihak yang merasa dirugikan dapat mengajukan permohonan talak (untuk suami) atau cerai gugat (untuk istri) dengan alasan zina, sesuai dengan KHI Pasal 116 j.o. Peraturan Pemerintah (PP) No. 9/1975 pasal 19 (a) yang berbunyi: “Perceraian dapat terjadi karena alasan atau alasan-alasan: Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;”. Pengajuan permohonan talak atau cerai gugat tersebut ditujukan kepada Pengadilan Agama di wilayah tempat tinggal istri, sesuai dengan UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama Pasal 66 ayat (1): “Seorang suami yang beragama Islam yang akan menceraikan istrinya mengajukan permohonan kepada Pengadilan untuk mengadakan sidang guna menyaksikan ikrar talak” j.o. KHI pasal 129 dan Pasal 73 ayat (1): “Gugatan perceraian diajukan oleh istri atau kuasanya kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman penggugat, kecuali apabila penggugat dengan sengaja meninggalkan tempat kediaman bersama tanpa izin tergugat” j.o. KHI pasal 132 ayat (1).

Selanjutnya kami berpendapat pula bahwa, meskipun pernikahan seorang muslimah yang baik dengan lelaki muslim yang pezina dan pernikahan seorang muslimah yang pezina dengan lelaki muslim yang baik itu tercela dan tidak pantas, selagi orang yang berzina tersebut belum bertaubat, namun pernikahan tersebut tetap sah, sesuai dengan ayat berikut:


Artinya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian* di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [QS. an-Nur (24): 32]

*Maksudnya: hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita-wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.

Dan sesuai dengan hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ يُحَرِّمُ اْلحَرَامُ اْلحَلاَلَ  [رواه البيهقي والدار قطني وابن ماجه]

Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: Yang haram itu tidak mengharamkan yang halal.” [HR. al-Baihaqi, ad-Daruquthni dan Ibn Majah]

Akan tetapi, seorang laki-laki muslim haram menikahi seorang perempuan yang musyrikah, walaupun musyrikah ini orang baik-baik (bukan pezina). Demikian pula seorang laki-laki musyrik haram menikahi seorang perempuan muslimah, meskipun muslimah ini orang yang suka berzina. Pernikahan tersebut semuanya tidak sah hukumnya, berdasarkan firman Allah:


Artinya: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik daripada wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” [QS. al-Baqarah (2): 221]

Demikian jawaban dari kami. Perlu kiranya kami tegaskan di sini bahwa fatwa-fatwa terdahulu yang berkaitan dengan masalah pernikahan wanita hamil dan nasab anak zina telah disempurnakan dengan fatwa ini.
Wallahu a'lam bish-shawab. *mi-mzr)
Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Cara Berdiri Setelah Sujud dan Cara Duduk Makmum Masbuq

CARA BERDIRI SETELAH RAKA'AT PERTAMA
 DAN CARA DUDUK BAGI MAKMUM MASBUQ

Pertanyaan Dari:
Drs. H. Chamid Hilal, Muntilan Magelang Jawa Tengah
(disidangkan pada Jum’at, 16 Muharram 1429 H / 25 Januari 2008 M)


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Shalat merupakan ibadah yang utama dalam Islam dan harus dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Rasulullah saw. Berkaitan dengan itu ada dua pertanyaan yang saya mohon penjelasannya dari Majlis Tarjih dan Tajdid.
1.      Dalam pelaksanaan shalat ada sebagian orang yang melakukan duduk iftirasy setelah sujud kedua pada rakaat pertama kemudian berdiri dan ada pula yang tanpa duduk terlebih dahulu (terus berdiri), dan biasanya dengan memanjangkan bacaan jalalah hingga beberapa alif dari takbir intiqal. Mana yang lebih afdhal berdasarkan dalil?
2.      Apa yang harus dilakukan oleh makmum masbuq ketika imam sedang duduk tawarruk, padahal ia belum melakukan duduk iftirasy. Apa dalilnya?
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.


Jawaban:

1.      Pertanyaan yang saudara tanyakan senada dengan apa yang pernah ditanyakan oleh penanya dari Padang dan Irian Jaya yag terdapat pada buku Tanya Jawab Agama jilid II hal 64-65 dan Tanya Jawab Agama jilid IV hal 78. Untuk lebih jelasnya kami sampaikan bahwa cara duduk dalam pelaksanaan shalat ada dua macam, yaitu duduk tawarruk dan duduk iftirasy. Duduk tawarruk dilakukan ketika seorang melakukan tasyahud akhir (tasyahud yang diakhiri dengan salam), sedang duduk iftirasy dilakukan ketika duduk antara dua sujud, duduk sejenak ketika akan memasuki raka'at kedua atau keempat setelah sujud yang kedua, dan ketika duduk tasyahud awal.
Adapun cara berdiri yang dilakukan ketika seseorang telah melakukan sujud kedua dari raka'at ganjil adalah duduk sejenak dengan cara duduk iftirasy terlebih dahulu sebelum memasuki pada raka'at berikutnya. Cara duduk semacam ini didasarkan pada  hadits-hadits berikut;
a.       Hadits riwayat Malik ibn al-Huwairits al-Laitsy

أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَإِذَا كَانَ فِي وِتْرٍ مِنْ صَلاَتِهِ لَمْ يَنْهَضْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا. [رواه البخارى والترمذى والنسائى وأبو داود]

Artinya: "Bahwa ia (Malik ibn al-Huwairits) melihat Nabi saw shalat, maka apabila beliau berada pada raka'at ganjil (raka'at 1 dan raka'at 3) dari shalatnya beliau sebelum berdiri duduk dulu sehingga lurus duduknya." [HR. al-Bukhari, at-Turmudzi, an-Nasai dan Abu Dawud]
b.      Hadits riwayat Malik ibn al-Huwairits yang lain

.... وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ عَنْ السَّجْدَةِ الثَّانِيَةِ جَلَسَ وَاعْتَمَدَ عَلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ قَامَ. [رواه البخارى: الأذان: كيف يعتمد على الأرض اذا قام من الركعة]

Artinya: “... apabila beliau mengangkat kepalanya dari sujud yang kedua, beliau duduk dan menekankan (tangan) kepada tanah (tempat shalat) lalu berdiri." [HR. al-Bukhari]
Hadits pertama menjelaskan bahwa Malik ibn al-Huwairits melihat (mengetahui) tata cara shalat yang diajarkan oleh Nabi, apabila beliau berdiri setelah sujud kedua pada raka'at ganjil, yaitu rakaat pertama atau ketiga beliau duduk istirahat (iftirasy) terlebih dahulu, setelah itu berdiri. Sedangkan hadits kedua menjelaskan selain adanya duduk iftirasy sebelum berdiri juga tentang cara berdiri untuk raka'at berikutnya dengan cara menekankan (tangan) pada tempat shalat.
Dalam hadits-hadits yang berkaitan dengan cara duduk dan berdiri dari raka'at ganjil, tidak didapati keterangan yang menjelaskan tentang memanjangkan lam jalalah yang berlebihan.
Dari hadits-hadits di atas dan beberapa syarahnya dapat disimpulkan bahwa cara berdiri dari raka'at ganjil (raka'at pertama atau ketiga) menuju raka'at genap (raka'at kedua atau keempat) dengan melakukan duduk iftirasy (istirahat) terlebih dahulu kemudian berdiri dengan cara menekankan kedua tangan pada tempat shalat. Dan bacaan takbir dan gerakan bangkit dari sujud dilakukan seperti takbir lainnya dengan tidak memanjangkan lam jalalahnya.
2.      Adapun pertanyaan kedua, apa yang harus dilakukan oleh makmum masbuq ketika imam sedang duduk tawarruk. Untuk menjawab pertanyaan saudara perlu kami sampaikan bahwa dalam pelaksanaan shalat jama'ah ada beberapa ketentuan, diantaranya.
a.       Imam dalam shalat jama'ah dijadikan untuk diikuti makmum. Hal ini berdasarkan hadits:

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِنَّمَا جُعِلَ اْلاِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَاِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوْا وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتىَّ يُكَبِّرَ. وَاِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوْا وَلاَ تَرْكَعُوْا حَتىَّ يَرْكَعَ. وَاِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوْا وَلاَ تَسْجُدُوا حَتىَّ يَسْجُدَ. [رواه ابو داود]

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda: Sungguh bahwa imam itu diangkat untuk diikuti. Oleh karenanya apabila ia bertakbir, maka takbirlah kamu dan janganlah kamu bertakbir sehingga ia bertakbir. Dan apabila ia telah ruku’, maka ruku’lah kamu, dan jangan kamu ruku’ sehingga ia ruku’. Dan apabila ia telah bersujud maka bersujudlah kamu, dan jangan kamu bersujud sehingga ia bersujud.” [HR. Abu Dawud]
b.      Makmum tidak dibolehkan mendahului imam dalam melakukan gerakan dan bacaan imam.
c.       Imam dan makmum  membaca ta'min (Aamiin) secara bersama-sama.
d.      Khusus bagi makmum masbuq (jama'ah yang ketinggalan/terlambat), apabila mendatangi  shalat jama'ah dan mendapati imam sudah melakukan shalat, maka ia segera melakukan takbir lalu mengerjakan gerakan atau bacaan yang dikerjakan imam, apabila ia dapat melakukan ruku' bersama imam maka dihitung satu raka'at dan setelah imam selesai salam maka ia menyempurnakan shalatnya. Ketentuan khusus bagi makmum ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ali ibn Abi Thalib:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ الصَّلاَةَ وَاْلإِمَامُ عَلَى حَالٍ فَلْيَصْنَعْ كَمَا يَصْنَعُ اْلإِمَامُ. [رواه الترمذى]

Artinya: “Nabi saw bersabda: Apabila salah seorang dari kamu mendatangi shalat (jama'ah) sedang imam berada dalam suatu keadaan, maka hendaklah ia kerjakan sebagaimana apa yang dikerjakan oleh Imam. [HR. at-Turmudzi]
Dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi: Syarh Sunan at-Turmudzi, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan kalimat "'ala haalin" yaitu dalam keadaan berdiri, ruku' sujud atau duduk. Dan yang dimaksud dengan kalimat "Falyashna' kamaa yashna'ul imam" adalah hendaklah ia (makmum masbuq) menyesuaikan dengan apa yang dilakukan oleh imam baik ketika keadaan imam sedang berdiri, ruku, sujud atau lainnya, dan janganlah ia menunggu imam berdiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang awam.
Dari hadits dan syarah di atas dapat disimpulkan bahwa makmum masbuq hendaklah mengikuti apa saja yang dilakukan oleh imam, dan diawali dengan takbiratul ihram karena sebagai pembuka shalat.
Inti jawaban dari pertanyaan kedua saudara adalah makmum masbuq ketika imam sedang duduk tawarruk, hendaklah melakukan duduk tawarruk sebagaimana yang dilakukan oleh imam tersebut.

Wallahu a'lam bishshawab. *A.56h)




Download File

Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Shalat Qabliyah Isya

SHALAT QABLIYAH ISYA DAN
PENGERTIAN HADITS "BAINA KULLI AZANAINI SHALAT"

Pertanyaan Dari:
Dani Maharani, Depok Jawa Barat
(disidangkan pada Jum’at, 9 Muharram 1429 H / 18 Januari 2008 M)


Pertanyaan:

Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Di dalam buku fikih Islam sesuai dengan Putusan Majelis Tarjih yang ditulis oleh Drs. Musthafa Kamal Pasha, B. Ed, Drs. M.S. Cholil, M.A. dan  Drs. Waharjani, M.Ag. terbitan Citra Karsa Mandiri halaman 109 tentang shalat Sunnat Isya disebutkan: "Shalat sunnat sebelum shalat Isya (qabliyyah Isya) tidak dituntunkan (ghairu masyru)". Pertanyaannya:
1.      Apakah sebelum shalat Isya tidak ada shalat sunnat ?
2.      (kalau tidak ada) Apakah pendapat tersebut bertentangan dengan hadits yang berbunyi "Baina kulli azanaini shalat"?


Jawaban:

Untuk menjawab pertanyaan pertama saudara perlu kami sampaikan terlebih dahulu beberapa hadits tentang shalat sunnat sebagai berikut;
1.      Hadits riwayat Umi Habibah, istri Rasulullah saw:

قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلاَّ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَوْ إِلاَّ بُنِيَ لَهُ بَيْتٌ فِي الْجَنَّةِ. [رواه مسلم: صلاة المسافرين وقصرها: فضل السنن الراتبة قبل الفرائض وبعد هن]

Artinya: “Ia (Umi Habibah) berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda; Seorang hamba muslim yang melakukan shalat sunat sebanyak dua belas rakaat setiap hari selain shalat wajib, Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” [HR. Muslim]
2.      Hadits riwayat Aisyah:

قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ. [رواه الترمذى]

Artinya: “Ia (Aisyah) berkata: Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa menetapi dua belas raka'at dari (shalat) sunnat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga, (yaitu) empat raka'at sebelum shalat Dzuhur, dua raka'at setelah shalat Dzuhur, dua raka'at setelah shalat Maghrib, dua raka'at setelah shalat Isya dan dua raka'at sebelum shalat Fajar (shubuh)." [HR. at-Tirmudzi]
3.      Hadits riwayat Ibnu Umar:

قَالَ حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلاَةِ الصُّبْحِ. [رواه البخارى]

Artinya: “Ia (Ibnu Umar) berkata; saya ingat (betul) sepuluh raka'at dari Rasulullah saw, dua raka'at sebelum shalat Dzuhur, dua raka'at setelah shalat Dzuhur, dua raka'at setelah shalat Maghrib, dua raka'at setelah shalat Isya, dan dua raka'at sebelum shalat Shubuh.” [HR. al-BuKhari]
Keterangan:
Hadits pertama (hadits riwayat Umu Habibah) menjelaskan tentang keutamaan shalat rawatib baik sebelum shalat fardlu maupun setelah shalat fardhu. Keutamaan yang akan diberikan bagi orang yang selalu menjaga (melaksanakan) shalat rawatib akan dibangunkan sebuah rumah di surga.
Hadits kedua (hadits riwayat Aisyah) menjelaskan bahwa orang yang akan diberi bangunan rumah oleh Allah di surga adalah orang yang selalu melaksanakan shalat sehari semalam sebanyak dua belas rakaat, yaitu; empat raka'at sebelum shalat Dzuhur, dua raka'at setelah shalat Dzuhur, dua raka'at setelah shalat Maghrib, dua raka'at setelah shalat Isya dan dua raka'at sebelum shalat Fajar (shubuh).
Hadits ketiga (hadits riwayat Ibnu Umar) menjelaskan bahwa Ibnu Umar selalu ingat dan melakukannya sepuluh rakaat shalat (yang diajarkan) dari Rasulullah saw, yaitu; dua raka'at sebelum shalat Dzuhur, dua raka'at setelah shalat Dzuhur, dua raka'at setelah shalat Maghrib, dua raka'at setelah shalat Isya, dan dua raka'at sebelum shalat Shubuh (shalat fajar).
Dari hadits kedua dan ketiga di atas dapat disimpulkan bahwa ada sepuluh atau dua belas rakaat shalat rawatib, yakni shalat sunnat yang dikerjakan sebelum (qabliyah) atau setelah (ba'diyah) shalat fardhu), yaitu; dua raka'at atau empat raka'at sebelum shalat Dzuhur, dua rakaat setelah shalat Dzuhur, dua rakaat setelah shalat Maghrib, dua raka'at setelah shalat Isya, dan dua raka'at sebelum shalat Shubuh.
Dengan memperhatikan hadits-hadits di atas jelaslah bahwa tidak ada shalat sunnat rawatib sebelum shalat Isya (qabliyah Isya), begitu juga qabliyah shalat Ashar dan ba'diyah shalat Ashar.
Perlu kami sampaikan bahwa Muhammadiyah melalui Majlis Tarjih pada Muktamar Tarjih di Wiradesa Pekalongan Jawa Tengah tahun 1972 telah memutuskan tentang Shalat-shalat Tathawwu'. Dalam Muktamar Tarjih tersebut dijelaskan bahwa shalat-shalat Tathawwu' yang berdasarkan tuntunan dari Nabi saw yang berdasarkan dalil yang kuat ada 11 macam, yaitu; 1. Shalat sesudah wudhu,  2. Shalat antara adzan dan iqamah, 3. Shalat Tahiyat (hormat ketika masuk) masjid, 4. Shalat Rawatib,               5. Shalat Malam, 6. Shalat Dluha, 7. Shalat akan bepergian, 8. Shalat Istikharah (mohon dipilihkan, 9. Shalat kedua hari raya (Fithri dan Adha), 10. Shalat Gerhana Dua (matahari dan bulan) dan 11. shalat Istisqa' (mohon hujan).  (Lihat HPT, hal 318-320)
Adapun pertanyaan kedua tentang hubungannya dengan hadits yang saudara tanyakan, yang nash lengkapnya sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلاَةٌ ثُمَّ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ. [رواه البخارى: الأذان: بين كل أذانين صلاة لمن شاء]

Artinya: “Diriwayatkan dari Abdullah ibn Mughaffal ia berkata: Nabi saw bersabda: Di ntara setiap dua adzan (ada) shalat, di antara setiap dua adzan (ada) shalat, kemudian beliau menekankan pada kali ketiga (dengan tambahan) bagi siapa yang menghendakinya.” [HR. al-Bukhari]
Hadits tersebut memberi petunjuk bahwa pada setiap kali sesudah adzan menjelang iqamah disyariatkan shalat sunnat. Artinya antara adzan dan iqamah tersedia waktu untuk mendirikan shalat sunat sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, baik shalat sunnat yang tergolong sunnat muakkadah, yaitu shalat sunnat yang dikuatkan pelaksanaannya yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw atau shalat sunnat ghairu muakkadah, yakni shalat sunnat yang tidak dikuatkan pelaksanaannya, pernah dikerjakan oleh beliau tetapi sering ditinggalkannya.
Yang dimaksud kalimat "adzanaini" dalam hadits di atas adalah (antara) adzan dan iqamah, sedang maksud kalimat "shalat" setelah lafadz "adzanaini" adalah waktu shalat atau shalat sunnat yang jumlahnya dua atau empat raka'at yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Adapun shalat sunat Qabliyah yang berdasarkan hadits-hadits Nabi saw adalah seperti yang kami sebutkan di atas (2 atau 4 raka'at sebelum shalat Dzuhur dan 2 raka'at sebelum shalat Shubuh) dan tidak atau belum ditemukan dalil yang menunjukkan bahwa Nabi saw atau para shahabat melakukan shalat qabliyah Isya'. Dengan demikian, jelaslah bahwa tidak ada shalat Rawatib Qabliyah Isya, tetapi shalat sunat lainnya (selain rawatib qabliyah) dapat dikerjakan.

Wallahu a'lam bishshawab. *A.56h)

     Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid
Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Bolehkah Menukar Kulit Sapi Kurban dengan Kambing ?

BOLEHKAH MENUKAR KULIT-KULIT SAPI KURBAN
DENGAN SEEKOR KAMBING?

Pertanyaan Dari:
Anhar, Sukorejo 3, Tanggamus Lampung
(disidangkan pada Jum’at 2 Muharram 1429 H / 11 Januari 2008 M)


Pertanyaan:

Saya Panitia Qurban Masjid Taqwa Sukorejo 3 Tanggamus Lampung, pada hari raya Idul Adlha yang lalu kami menukarkan kulit-kulit sapi kurban dengan seekor kambing. Kemudian kambing tersebut kami sembelih dan kami bagikan kepada para mustahiq. Sah atau tidakkah menurut Syara’?

Jawaban:

Di antara hadits yang berkaitan dengan kulit hewan kurban, yaitu:


قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنِي زُبَيْدٌ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ أَتَى أَهْلَهُ فَوَجَدَ قَصْعَةً مِنْ قَدِيدِ اْلأَضْحَى فَأَبَى أَنْ يَأْكُلَهُ فَأَتَى قَتَادَةَ بْنَ النُّعْمَانِ فَأَخْبَرَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فَقَالَ إِنِّي كُنْتُ أَمَرْتُكُمْ أَنْ لاَ تَأْكُلُوا اْلأَضَاحِيَّ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ لِتَسَعَكُمْ وَإِنِّي أُحِلُّهُ لَكُمْ فَكُلُوا مِنْهُ مَا شِئْتُمْ وَلاَ تَبِيعُوا لُحُومَ الْهَدْيِ وَاْلأَضَاحِيِّ فَكُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَاسْتَمْتِعُوا بِجُلُودِهَا وَلاَ تَبِيعُوهَا [رواه أحمد]

Artinya: “Sulaiman Ibn Musa berkata: Zubaid telah menceritakan kepadaku bahwa Abu Sa‘id al-Khudri telah mendatangi keluarganya, kemudian ia mendapati semangkok besar dendeng dari daging kurban dan ia tidak mau makan dendeng tersebut. Kemudian Abu Sa‘id al-Khudri mendatangi Qatadah Ibn Nu‘man dan menceritakannya bahwa Nabi saw bersabda: Sungguh aku telah memerintahkan agar tidak makan (daging) hewan kurban lebih dari tiga hari agar mencukupi kamu sekalian, dan sekaramg saya membolehkan kamu akan hal itu. Oleh karena itu, makanlah bagian dari kurban tersebut yang kamu sukai, janganlah kamu menjual daging al-hadyu (daging hewan dam) dan daging hewan kurban. Makanlah, sedekahkanlah, manfaatkan kulit hewan kurban itu, dan jangan kamu menjualnya.” [HR. Ahmad]

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَ أَنْ أُقْسِمَ لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا عَلَى الْمَسَاكِينِ وَلاَ أُعْطِيَ فِي جِزَارَتِهَا شَيْئًا مِنْهَا [متفق عليه]

Artinya: “Diriwayatkan dari ‘Ali Ibn Abi Thalib ra, ia berkata: Rasulullah saw memerintahkan kepada saya untuk mengurus unta kurban dari beliau, agar saya membagikan dagingnya, kulitnya dan perlengkapan unta itu kepada orang-orang miskin; serta tidak memberikan sedikitpun untuk upah penyembelihannya.” [Muttafaq ‘alaih]

Terhadap larangan menjual kulit hewan kurban sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, para ulama di antaranya al-Auza‘i, Ahmad Abu Tsaur dan juga madzhab Syafi’i mengatakan bahwa dibolehklan menjual kulit hewan kurban sepanjang hasil penjualan itu ditasharufkan untuk kepentingan kurban (Muhammad asy-Syaukani, Nailul Authar, Juz III, halaman 202). Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa boleh menukarkan kulit hewan kurban sepanjang tidak dengan dinar atau dirham, melainkan dengan barang, karena dengan barang itu akan dapat untuk dimanfaatkan (asy-Syaukani, Subulus-Salam, Juz IV, halaman 94).

Pemanfaatan kulit hewan kurban tersebut, jika dikaitkan dengan perintah untuk membagikan sebagaimana disebutkan dalam hadits yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim yang telah disebutkan di atas, maka tentunya pemanfatannya adalah untuk dibagikan kepada orang-orang miskin.

Dengan keterangan di atas kiranya dapat disarikan bahwa boleh menjual kulit hewan kurban kemudian hasil penjualan untuk membeli daging atau kambing, yang selanjutnya dibagikan kepada orang-orang yang berhak menerima bagian daging kurban. Yang dilarang adalah menjual kulit hewan kurban yang hasil penjualannya untuk kepentingan pribadi.

Wallahu a’lam. *dw)